Pembentukan Kata dalam Bahasa Arab

Pembentukan Kata dalam Bahasa Arab

Beberapa kata baru terbentuk melalui proses penggabungan dua kata atau lebih. Perpaduan ini sedikitnya dapat berwujud ke dalam beberapa jenis perpaduan kata berikut: affixation (afiksasi), compound (pemajemukan), acronyms (akronim), back-formations (pembentukan susut), abbreviations (abreviasi), dan blends (paduan). Berikut akan dijelaskan secara terperinci masing-masing jenis perpaduan kata tersebut.

A. Affixation (Afiksasi)

Beberapa pakar linguistik terkemuka memberikan definisi tentang afiks. Menurut Matthews (1997:11), afiks adalah “any element in the morphological structure of word other than a *root.” Robins (1992:245), seorang ahli bahasa dari Universitas London, lebih cenderung menganggap afiks sebagai istilah umum yang mengacu kepada morfem formatif dan bukan berupa akar yang muncul berulang dalam kata. Dengan definisi yang dikemukakan Mattthews dan Robins ini, mungkin agak sulit bagi peminat bahasa menggambarkan afiksasi sebagai sebuah bagian proses morfologis. Oleh karena itu, untuk memudahkan peminat bahasa dalam memahami konsep afiksasi, secara sederhana afiks bisa saja didefinisikan sebagai morfem terikat yang selalu menempel pada kata dasar.

Penambahan afiks dapat dilakukan di depan (= di sebelah kiri), di belakang (= di sebelah kanan), disisipkan, di depan dan belakang (= sebagian di kiri dan sebagian di kanan) morfem dasar, atau sebagai unsur perangkai di dalam kata majemuk yang berada di antara dua leksem, dan berada di tengah namun berupa vokal. Penambahan yang diimbuhkan di depan (=di sebelah kiri) morfem dasar disebut prefiks, yang diimbuhkan di belakang (= di sebelah kanan) morfem dasar disebut sufiks, yang diimbuhkan sebagai sisipan morfem dasar disebut infiks, yang diimbuhkan di depan dan belakang (= sebagian di kiri dan sebagian di kanan) morfem dasar disebut konfiks, yang menjadi unsur perangkai disebut interfiks, sedang yang berupa vokal di tengah disebut sebagai transfiks.

Penambahan afiks itu sendiri juga mengalami dua pengubahan: pengubahan gramatikal dan pengubahan leksikal. Pengubahan gramatikal inilah yang nantinya disebut sebagai gejala infleksi, sedang pengubahan leksikal disebut sebagai gejala derivasi. Infleksi, menurut Matthews (1997:178), adalah “any form or change or form which distinguishes different gramatical form of the same lexical unit.” Sedang derivasi didefinisikannya (1997:94) sebagai “any series of changes in which a form or structure is altered by successive processes.”

Berikut beberapa contoh prefiks, sufiks, infiks, konfiks, interfiks, dan transfiks dalam bahasa Arab yang disajikan secara singkat. Dalam makalah sebelumnya, penulis telah menyajikannya pada secara lebih lengkap, sehingga penulis merasa tidak perlu mengulangi penjelasannya secara panjang lebar.

1. Prefiks

a. Pengubahan Gramatikal

s-q-th ‘jatuh’ a-squthu ‘aku jatuh’

k-n-s ‘menyapu’ ta-knisu ‘kamu menyapu’

r-q-d ‘tidur’ ya-rqudu ‘dia (sedang) tidur’

dh-r-b ‘memukul’ na-dhribu ‘kita memukul’

f-dh-l ‘utama’ a-fdhal ‘lebih/paling utama’

sy-gh-l ‘sibuk’ a-syghal ‘menyibukkan’

q-f-r ‘sepi’ a-qfara ‘menjadi sepi’

sh-b-h ‘pagi’ a-shbaha ‘masuk waktu pagi’

f-t-h ‘membuka’ in-fataha ‘menjadi terbuka’

gh-f-r ‘mengampuni’ ist-ghfara ‘meminta ampun’

q-r-r ‘menetap’ ista-qarra ‘menetap’

h-s-n ‘bagus’ ista-hsana ‘menganggap bagus’

b. Pengubahan Leksikal

dh-r-b ‘memukul’ ma-dhrab ‘tempat memukul’

sy-r-b ‘minum’ ma-syrab ‘waktu minum’

dh-r-b ‘memukul’ mi-dhrab ‘alat pukul’

h-j-r ‘batu’ ista-hjara ‘berubah menjadi batu’

h-j-z ‘Hijaz’ a-hjaza ‘masuk wilayah Hijaz’

2. Sufiks

a. Pengubahan Gramatikal

j-l-s ‘duduk’ jalas-tu ‘aku duduk’

f-k-r ‘berfikir’ fakar-ta ‘kamu (laki-laki) berfikir’

f-h-m ‘berharap’ fahim-ta ‘kamu (wanita) faham’

dh-r-b ‘memukul’ dharab-tumaa ‘kamu (berdua) memukul’

f-q-d ‘hilang’ faqad-tum ‘kalian kehilangan’

f-k-r ‘berfikir’ fakar-tunna ‘kamu (jamak) berfikir’

r-j-a’ ‘kembali’ raja’-naa ‘kita kembali’

n-k-h ‘menikah’ nakah-at ‘ia (wanita) menikah’

b. Pengubahan Leksikal

n-sh-h ‘nasihat’ nushh-i ‘nasehatiku’

y-s-r ‘mudah’ yusru-ka ‘kemudahanmu (laki-laki)’

r-z-q ‘rezeki’ rizqu-ki ‘rezekimu (wanita)’

f-t-h ‘kebebasan’ futuuhu-kumaa ‘kebebasan (kamu berdua)’

r-z-q ‘rezeki’ rizqu-kum ‘rezeki kalian’

s-m-‘a ‘pendengaran’ sam’u-naa ‘pendengaran kita

w-j-d ‘perasaan’ wajdu-naa ‘perasaan kita’

r-f-q ‘teman’ rifqu-naa ‘teman kita’

‘a-sh-r ‘masa’ ‘ashr-i ‘kontemporer’

b-sy-r ‘manusia’ basyar-i ‘manusiawi’

‘a-sh-b ‘saraf’ ‘ashab-iyyah   ‘fanatisme’

3. Infiks

a. Pengubahan Gramatikal

dh-r-b ‘memukul’ dha-a-raba ‘saling memukul’

sh-f-h ‘berjabat-tangan’ sha-a-faha ‘saling berjabat-tangan’

sh-l-h ‘memperbaiki’ sha-a-laha ‘saling memperbaiki’

b. Pengubahan Leksikal

k-t-b ‘menulis’ ka-a-tib ‘penulis’

n-sh-r ‘menolong’ na-a-shir ‘penolong’

k-t-b ‘menulis’ kita-a-b ‘buku’

4. Konfiks

a. Pengubahan Gramatikal

l-m-s ‘menyentuh’ a-lmas-u ‘aku menyentuh’

j-l-s ‘keluar’ ta-jlis-u ‘aku keluar’

sy-r-b ‘minum’ na-syrab-u ‘aku minum’

d-kh-l ‘masuk’ a-dkhal-a ‘memasukkan’

b-k-m ‘bisu’ a-bkam-a ‘menjadi bisu’

k-s-r ‘pecah’ in-kasar-a ‘menjadi pecah’

n-sh-r ‘menolong’ ista-nshar-a ‘meminta tolong’

a-y-m ‘janda’ ta-ayyam-a ‘menjadi janda’

b. Pengubahan Leksikal

dh-r-b ‘memukul’ ma-dhrab-un ‘tempat memukul’

n-sh-r ‘menolong’ ma-nshar-un ‘waktu menolong’

a-k-l ‘makan’ mi-`kaal-un ‘alat makan’

5. Transfiks

a. Pengubahan Gramatikal

d-r-s ‘belajar’ d-a-r-a-s ‘ia [laki-laki] belajar’

f-r-h ‘senang’ f-a-r-r-a-h-a ‘menyenangkan’

m-d-d ‘memanjangkan’ m-a-d-d-a-d-a ‘memanjang-manjangkan’

k-f-r ‘mengkafiri’ k-a-f-f-a-r-a ‘menisbatkan kekafiran’

n-z-l ‘turun’ y-a-n-z-i-l-u ‘dia (sedang) turun’

b. Pengubahan Leksikal

t-r-k ‘meninggalkan’ m-a-t-r-u-u-k ‘yang ditinggalkan’

h-k-m ‘menghukumi’ m-a-h-k-a-m-a-h ‘tempat pengadilan’

th-b-‘a ‘mencetak’ m-a-th-b-a-‘a-h ‘percetakan’

f-t-h ‘membuka’ f-a-a-t-i-h ‘pembuka’

6. Interfiks

wajh-hasan à wajh-un-hasan (wajah yang bagus)

khauf-shabiy à khauf-ush-shabiy (ketakutan seorang anak)

birr-walad à birr-ul-walad (bakti anak)

B. Compounds (Pemajemukan)

Matthews (1997:66) mendefinisikan compound sebagai “a word formed from two or more units that are themselves words.” Menurut Fromkin dan Rodman (1998:84), compound adalah “new word may be formed by combining words together.” Dengan kata lain, secara lebih singkat, compound merupakan bentukan kata baru dengan menggabungkan dua kata atau lebih sebagai suatu kata baru.

Compounding sendiri oleh para ahli bahasa Indonesia disepadankan dengan “pemajemukan”. Alwi, dll. (1998:151) menjelaskan bahwa pemajemukan terjadi dengan menggabungkan suatu kata dengan kata lainnya sehingga penggabungan kata itu menyebabkan makna kata baru yang tidak sama dengan makna asal masing-masing kata-kata itu namun maknanya tetap masih bisa dirunut dari makna masing-masing kata yang tergabung.

Namun yang perlu diperhatikan, menurut para ahli itu, pemajemukan ini jangan sampai disamakan dengan idiom karena keduanya memang berbeda. Idiom sendiri sesungguhnya juga merupakan perpadaun dua kata atau lebih. Hanya saja perpaduannya tidak secara langsung dapat ditelusuri dari makna masing-masing kata yang tergabung.

Berikut beberapa contoh compound dalam bahasa Arab:

haatif + jawaal (telepon + berputar-putar) à haatif jawwaal (telpon genggam)

nathth + habl (lompat + tali) à naththul habl (lompat tali)

barr + maa’ (darat + air) à barrmaa’i (amphibi)

habl + shaut (tali + suara) à habl shauti (tali suara)

khizanah + kutub (penyimpanan + buku) à khizaanatul kutub (perpustakaan)

adab + khaanah (etika + lajur) à adabkhaanah (toilet)

Pada bagian ini juga tidak dapat diabaikan pembahasan tentang sesuatu ‘kata’ yang mirip leksem. Seorang Guru Besar Linguistik pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Anton M. Moeliono, menyebut ‘kata’ mirip leksem ini sebagai leksoid. Kridalaksana (1996:9) lebih menyukai menyebut ‘kata’ yang sama sebagai proleksem. Berikut beberapa contoh leksoid atau proleksem dalam bahasa Arab:

qabla (= sebelum) à qabla al-zawaaj (sebelum menikah)

ba‘da (= sesudah) à ba‘da al-milaad (setelah masehi)

baina (= di antara) à baina al-naas (di antara banyak orang)

dhidda (= kontra) à dhidda al-ra‘iyyah (kontra rakyat)

C. Acronyms (Akronim)

Kridalaksana (2001:5) mendefinisikan akronim sebagai “kependekan yang berupa gabungan huruf atau suku kata, atau bagian lain, yang ditulis dan dilafalkan sebagai kata yang sesuai dengan kaidah fonotaktik bahasa bersangkutan.” Lebih lanjut, Kridalaksana menyebut proses pemendekan itu sebagai akronimi. Menurut Fromkin dan Rodman (1998:87), akronim hanyalah pemendekan dari inisial beberapa kata yang dipendekkan. Definisi yang berbeda juga dikemukakan oleh Mathhews (1997:6). Ia mengatakan bahwa akronim adalah “a word formed from the initial letters of two or more successive words.”

Berikut beberapa contoh akronim dalam bahasa Arab:

th à thab’ah (cetakan)

h à hijriyyah (bulan hijriyah)

sh à shahiifah (halaman)

sh.b à shunduuqul bariid (kotak pos)

a.d à ustaaadz duktuur (Prof. Dr.)

h à tahwiil (perpindahan jalur trensmisi)

D. Back Formations (Pembentukan Susut)

Menurut Fromkin dan Rodman (1998:87), suatu kata baru dapat saja masuk ke dalam suatu bahasa lantaran salah dalam analisis morforlogisnya. Inilah yang disebut dengan back formation. Definisi yang mudah dipahami dapat ditemukan dari definisi yang dikemukakan Matthews (1997:33). Ia mengatakan bahwa back formation adalah “the formation of a simple or simpler word from one understood as derived.” Singkatnya, back formation terjadi lantaran kesalahan dalam memahami suatu kata sebagai bagian derivasi kata yang lain.

Berikut beberapa contoh back formation dalam bahasa Arab:

baatir (tajam) à yang secara salah dianggap berakar dari kata b-t-r

baasil (singa) à yang secara salah dianggap berakar dari kata b-s-l

simsaar (makelar) à yang secara salah dianggap berakar dari kata s-m-s-r

syurthah (polisi) à yang secara salah dianggap berakar dari kata sy-r-th

nashiil (kepala atas) à yang secara salah dianggap berakar dari kata n-sh-l

E. Abbreviations (Abreviasi)

Abreviasi didefinisikan oleh Fromkin dan Rodman (1998:88) sebagai “longer words or phrases also may become lexicalized.” Proses ini, menurut dua ahli yang tinggal di Amerika ini, terkadang disebut sebagai kliping (clipping). Oleh karena itu, tak heran bila Matthews (1997:1) tidak memberikan definisi pada lema abbreviation. Ia bahkan tampak menyebut acronym, blend, dan clipping sebagai bagian dari abbreviation dengan perbedaan hierarkis dan bukan sejajar. Ia menulis pada lema abbreviation sebagai berikut: “See acronym; blend, clipping.” Karena acronym telah dibahas dan blend akan dibahas berikutnya, maka sekarang kita akan membuka apa itu pengertian clipping menurut Matthews.

Menurutnya, clipping adalah “process of word formation in which an existing form is abbreviated” (1997:56). Ini pula yang mendasari Fromkin dan Rodman, seperti disinggung di atas, menyebut proses abreviasi sebagai proses kliping. Untuk lebih mudahnya, penulis ingin mendefinisikan abreviasi sebagai “proses pemendekan yang mengambil suku kata awal dari kata yang ingin dipendekkan.”

Berikut beberapa contoh clipping dalam bahasa Arab:

Faakis à faaksimilia (faksimili)

mininji’ à min aina ji’ta (darimana asal Anda)

shahh à shahiih (sehat)

dha‘ à dha‘iif (lemah)

F. Blends (Paduan)

“Word formed by joining the beginning of one form to the end of onather,” demikian Matthews (1997:40) mendefiniskan bkend. Definisi yang berbeda dikemukakan oleh Kridalaksana (2001:152). Ia menyebutkan sedikitnya ada 2 definisi yang menjelaskan tentang blend (i) hasil penggabungan beberapa morfem menjadi kata yang padat; dan (ii) kata yang diciptakan dari kata-kata yang sudah ada. Staf pengajar pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia ini juga menyebutkan tentang loan blend, yang dalam pembahasan ini kurang relevan untuk ditampilkan. Di lain pihak, Fromkin dan Rodman (1998:89) hanya mengatakan bahwa blend adalah “two words may be combined to produce blend.” Lebih lanjut, ia mengatakan, “Blends are similar to compounds but parts of the words that are combined are deleted and so they are ‘less than’ compounds.”

Dari beberapa definisi yang dikemukakan, penulis lebih sependapat dengan pendapat yang dikemukan oleh Kridalaksana. Definisi Kridalaksana tampak lebih luwes dan lebih universal mengakomodasi bahasa-bahasa yang ada, termasuk di dalamnya adalah bahasa Arab. Karena bila mengikuti definisi yang dikemukakan Matthews, Fromkin dan Rodman mungkin agak sulit menemukan contohnya dalam bahasa Arab. Menyangkut blend, sulit sekali ditemukan dalam bahasa Arab. Namun, meski hanya sedikit, berikut penulis sajikan beberapa contoh blend dalam bahasa Arab:

hamdalah à alhamdulillah

basmalah à bismillaah 

shal‘am à shallahllaahu ‘alaihi wa sallam

About these ads
    • abdur rohman
    • Maret 24th, 2009

    saya sangat tertarik dengan pembahasan ini. & kalo ada pembahasan lagi mengenai budaya bangsa arab dalam baik dalam domai pertanian, perdagangan, peternakan ditinjau dari segi bahasa, tolong dikirim ke e-mail bisa tidak? makasih sebelumnya ya……
    e-mail saya: el_vin84@yahoo.co.id

  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: