PERAN BAHASA ARAB SEBAGAI BAHASA INTERNASIONAL

KULIAH UMUM PROF. DR. ALWI SHIHAB

“PERAN BAHASA ARAB SEBAGAI BAHASA INTERNASIONAL

DAN BAHASA DIPLOMASI”

DI AUDITORIUM ARIFIN PANIGORO, UNIVERSITAS AL AZHAR INDONESIA

27 DESEMBER 2007

Ringkasan

Bahasa Arab sesungguhnya merupakan bagian tak terpisahkan dari

kehidupan umat Islam. Oleh karena itu, mempelajari dan menguasai bahasa

menjadi keperluan setiap muslim. Baginya, bahasa Arab perlu untuk membentuk

pribadi sebagai muslim dan meningkatkan kualitas keimanan dan pemahaman

terhadap ajaran agama, bahkan perlu sebagai sarana dakwah penyebaran agama

Islam. Bahasa Arab perlu dipandang sebagai “bahasa agama” dan bukan sebagai

bahasa budaya, etnis, kawasan, maupun negara tertentu saja. Itu ditandai dengan

banyaknya tokoh dan ulama muslim yang berasal dari bukan kawasan Arab, semisal

Al-Gazali, Al-Biruni, Ibnu Sina, Al-Razi, Al-Kindi, dsb., namun menguasai bahasa

Arab sebagai bagian dari studi Islam yang mereka tekuni. Selain itu, agama Islam,

yang salah satu unsurnya adalah bahasa Arab, seyogyanya men-jadi budaya yang

dominan mewarnai kehidupan umat Islam di tingkat pribadi, keluarga, dan

masyarakat.

Berseberangan dengan hal tersebut, harus diakui bahwa ada upaya kalangan

kolonial dan sekuler untuk “meminggirkan” dan “menjauhkan” bahasa Arab dan

sejumlah budaya keislaman dari kehidupan umat Islam. Dari segi upaya akademis,

ada salah satu contoh, Al-Munjid, yaitu kamus ekabahasa Arab yang sangat kurang

memasukkan unsur-unsur Arab yang terkait dengan keislaman; kamus itu disusun

oleh akademisi Katolik Libanon, Louis Ma’luf. Selain itu, secara kultural, ada upaya

pula yang ingin diterapkan dan disebarluaskan di kalangan masyarakat Arab, yaitu

pemopuleran penggunaan bahasa Arab kolokial (dialek lokal) dan pengesampingan

penggunaan bahasa Arab standar (fusha). Hal itu berakibat pada minimnya

pengetahuan dan pemahaman masyarakat Arab sendiri terhadap bahasa Arab yang

resmi dan standar. Ada satu keuntungan yang dimiliki bahasa Arab standar, yaitu

pemertahanannya yang langsung melibatkan “peran” Allah melalui turunnya Alquran

sebagai wahyu Allah yang berbahasa Arab (lihat QS. 15 [Al-Hijr] ayat 9).

Secara politis-internasional, bahasa Arab kini sudah diakui sebagai bahasa

inter-nasional dan digunakan juga sebagai salah satu bahasa diplomasi resmi di

forum Perserikatan Bangsa-bangsa. Beberapa negara non-Arab di dunia, seperti

Malaysia, bahkan sudah “mengakui” bahasa Arab di negaranya dan memberikan

apresiasi berupa adanya tulisan-tulisan berbahasa Arab di tempat-tempat umum.

Dalam hal perkembangan situasi ekonomi global, bahasa Arab mengambil tempat

dan peran yang sangat penting. Itu ditunjukkan dengan semakin pentingnya

kawasan Timur Tengah, yang notabene mayoritas masyarakatnya berbahasa Arab,

sebagai pusat sumber daya energi dan mineral dunia. Berbagai kalangan di dunia

yang berkepentingan dan ingin membuka jalur komunikasi dengan negara-negara

Timur Tengah, harus berpikir dan mengambil sikap bahwa mereka sangat

membutuhkan penguasaan bahasa Arab, sebagai “pintu masuk” komunikasi

antarbudaya yang kemudian membuka jalan bagi hubungan ekonomi, politik, dan

sebagainya; sebagai contoh, Duta Besar Jerman dan Duta Besar Belanda yang

sekarang bertugas di Indonesia ternyata mampu berbicara dalam bahasa Arab

dengan lancar sekali. Sebagai kawasan bisnis baru yang sangat terbuka dan

“menjanjikan” peluang serta prospek yang cerak, Timur Tengah adalah “primadona”

baru yang sedang merebut perhatian banyak kalangan di dunia. Itu ditandai pula

dengan semakin banyaknya lembaga dan perusahaan dari luar Arab yang

berdatangan dan membuka kantor di negara-negara Timur Tengah. Mereka yang

berdatangan itu menyadari bahwa bahasa Arab, selain bahasa Inggris, adalah

syarat utama komunikasi dan diplomasi sekaligus pendekatan dengan masyarakat

dan negara-negara Timur Tengah.

Tidak hanya proses masuknya investasi asing ke Timur Tengah yang

memerlukan bahasa Arab. Berbagai negara, dalam hal ini termasuk Indonesia, yang

menyadari pentingnya kawasan Timur Tengah sebagai mitra, menyadari bahwa

banyak pula harapan akan masuknya investasi negara-negara Arab ke negara

mereka. Di Indonesia bahkan sudah ada beberapa perwakilan perusahaan dan

lembaga keuangan asing yang membuka kantor di Indonesia. Itu memang tak

terlepas dari peran aktif dan keseriusan pemerintah RI untuk mengundang investor

asal Timur Tengah datang ke Indonesia. Dalam hal ini, proses komunikasi,

diplomasi, dan negosiasi bilateral tentulah membutuh-kan bahasa Arab sebagai

medianya yang paling utama. Sayangnya, harus diakui bahwa tenaga-tenaga ahli

yang menguasai bahasa Arab, seperti diplomat dsb., masih sedikit jumlahnya.

Padahal, kebutuhan akan hal itu kini begitu tinggi. Hal itu sekaligus menjadi peluang

dan tantangan bagi masyarakat Indonesia untuk melihat situasi yang sudah

berubah—hubungan Indonesia dengan kawasan Timur Tengah yang semakin

intensif dan semakin terbukanya peluang kerja—dan berpikir ulang bahwa bahasa

Arab kini bukan bahasa “kelas tiga”, tapi sudah menjadi bahasa yang penting dan

mutlak perlu dipelajari.

Perubahan situasi tersebut jelas menguntungkan masyarakat dan bangsa

Indo-nesia. Namun, keuntungan itu hanya akan dinikmati jika proses komunikasi

antarbudaya dan antarnegara yang berlangsung dijembatani oleh pemahaman

bahasa dan budaya yang baik. Jika bangsa dan masyarakat Indonesia tidak

memahami bahasa dan budaya Arab dengan baik, maka semua rencana besar

menyangkut politik, ekonomi, dsb. antarnegara akan sulit terwujud—suatu hal yang

patut menjadi keprihatinan nasional. Negara ini akan tetap mengalami kerugian

besar hanya karena tidak bisa berkomunikasi dan mendekati secara kultural orangorang

Arab yang sesungguhnya kini mulai tertarik dan bahkan berlomba untuk

masuk menanamkan modalnya di Indonesia, meski negara ini dengan tegas

menyatakan kepada Timur Tengah bahwa pemerintah membuka pintu seluasluasnya

dan memberikan banyak fasilitas khusus kepada mereka.

Mengingat peluang yang kini terbuka dan semakin pentingnya bahasa Arab

dalam kaitannya dengan peluang tersebut, perlulah kiranya Universitas Al Azhar

Indonesia (UAI) menyadari situasi itu dan berinisiatif menjadi perguruan tinggi

pelopor yang mewajibkan mahasiswa dan para lulusannya menguasai bahasa

asing, yaitu bahasa Inggris dan salah satu dari bahasa asing lainnya seperti bahasa

Arab. Jika hal itu terwujud, maka UAI akan memiliki trademark dan citra yang

semakin positif di mata masyarakat Indonesia khususnya dan masyarakat

internasional umumnya. Dengan membekali mahasiswa dan lulusannya dengan

kemampuan bahasa asing yang memadai, UAI diharapkan mampu mengisi

“kekosongan” dan berperan penting dalam pembentukan sumber daya manusia

yang mampu bekerja di sektor-sektor yang strategis seperti diplomasi/hubungan

internasional, ekonomi, dan sosial-budaya.

Kuliah umum ini diharapkan dapat memberikan wawasan dan membuka

cakrawala berpikir masyarakat kampus UAI untuk semakin termotivasi mempelajari

bahasa Arab, tidak sebagai bahasa agama Islam, tetapi juga sebagai bahasa

internasional yang semakin penting keberadaannya untuk dikuasai sebagai

keterampilan penunjang dan “nilai tambah”.

Uraian dan Jawaban Narasumber pada Sesi Tanya-Jawab

Penguasaan bahasa Arab/bahasa asing lainnya.

Bahasa Arab (dan bahasa asing lainnya) jika ingin dikuasai sebaiknya perlu

dipelajari sejak kecil, dengan metodologi yang menarik, meski dipelajari pada

usia dewasa, seperti pada saat akan memulai karier diplomatik (contoh kasus:

Dubes Jerman dan Belanda di Indonesia mampu berbahasa Arab!) pun tetap

mungkin. Yang terpenting dari pembelajaran bahasa adalah motivasi, tujuan, dan

prosesnya. Penguasaan bahasa asing dalam berkomunikasi dengan mitra asing

adalah modal penting meraih simpatinya dan memudahkan proses pencapaian

tujuan kerja sama dengan mereka. Tanpa itu, bekerja sama dengan orang asing

akan sulit dilakukan.

Diplomasi dengan masyarakat Timur Tengah.

Masih dirasa ada kesulitan dalam memberikan pemahaman dan meyakinkan

masyarakat Timur Tengah bahwa situasi Indonesia sudah berubah dan lebih

baik serta lebih menjanjikan untuk prospek kerja sama

antarnegara/antarkawasan. Itu tak terlepas dari pengalaman dan kesan masa

lalu orang Arab tentang watak dan budaya orang Indonesia menyangkut kerja

sama yang pernah dilakukan. Selain itu, masih banyak tersebar ke dunia

internasional berita-berita dari Indonesia yang menggambar-kan situasi

demontrasi masyarakat, tindakan kekerasan semisal bom bunuh diri,

pelanggaran HAM dan demokrasi, dan itu membuat para investor Timur Tengah

merasa tidak aman dan mengalihkan modalnya ditanamkan di negara lain

seperti Malaysia dsb.

Pengembangan bahasa Arab sebagai bahasa internasional.

Organisasi Konferensi Islam (OKI) berupaya melakukan kerja sama secara luas

dalam memasyarakatkan dan mendekatkan bahasa Arab dengan masyarakat

internasional, terutama dengan negara-negara anggota OKI. Indonesia sedang

menjajaki kerja sama pengembangan pengajaran bahasa Arab dengan institusi

The Arab Academy di Mesir untuk mewujudkan rencana itu.

Peluang kerja berbasis kemampuan berbahasa Arab.

Di Indonesia sudah mulai berdatangan berbagai institusi dan perusahaan Timur

Tengah yang membuka cabang dan berinvestasi. Di Lombok, contohnya, sedang

di-garap secara khusus proyek pariwisata yang didanai oleh perusahaan dari

Qatar. Hal itu dengan sendirinya akan membuka kesempatan kerja bagi tenaga

ahli yang menguasai bahasa Arab. Dengan begitu, diharapkan para

pelajar/mahasiswa yang belajar bahasa Arab optimis dengan masa depan

mereka.

Peran pemerintah RI dalam pengembangan pengajaran bahasa Arab (dan

bahasa asing lainnya).

Pemerintah RI kini berkomitmen mendorong pengembangan pengajaran dan

pem-belajaran bahasa asing di lembaga pendidikan yang ada. Itu antara lain

ditunjukkan dengan diizinkannya masyarakat Indonesia untuk belajar di sekolahsekolah

asing yang ada di Indonesia. Pemerintah juga mendorong agar para

pelajar/mahasiswa memiliki kemampuan berbahasa asing yang memadai,

seperti dengan cara men-syaratkan standar kemampuan tertentu bagi lulusan

sekolah yang akan memasuki dunia kerja. Bahasa Inggris tetaplah menjadi

prioritas utama untuk diajarkan di sekolah-sekolah formal. Adapun

pengembangan bahasa Arab, hal itu diprioritaskan untuk dilakukan di lembagalembaga

pendidikan Islam, seperti madrasah, UIN, dsb. Itu karena bahasa Arab

masih sulit dikembangkan di lembaga-lembaga pendidikan non-formal karena

faktor sosial-budaya masyarakat Indonesia yang masih memandang “sebelah

mata” terhadap bahasa Arab.

    • ayeesha
    • Juli 27th, 2010

    Terima kasih atas dimuatnya artikel di atas.
    Berguna untuk referensi tugas sekolah.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: