Kiat Penerjemahan Bahasa Arab

Kiat Penerjemahan Bahasa Arab

Pendahuluan

Setiap bahasa adalah sui generis (Catford 1965:27). Maksudnya, ia mempunyai sistem tersendiri. Nida dan Taber (1974:3) menyebutkan each language has its own genius. Karenanya, setiap bahasa mempunyai karakteristik tertentu yang berbeda dengan bahasa yang lainnya, misalnya dalam pembentukan kata, pola urutan frase, dlsb. Agar kita dapat mengomunikasikan pesan bahasa sumber (Bsu) ke dalam bahasa sasaran (Bsa), kita harus memperhatikan karakteristik setiap bahasa.

Beberapa Karakteristik Bahasa Arab

1. Bahasa Arab mengenal genus, baik dalam verba maupun dalam nomina

.الألاف يتظاهرون للمطالبة باستقالة واحد

‘Ribuan massa berdemonstrasi menuntut mundurnya wahid’.

Bahasa Arab mengharuskan adanya kesesuaian genus antara nomina dan adjektiva, maka frase pasti konstruksi idafah dan kataواحد bukanlah adjektiva yang menerangkan nomina استقالة sehingga terjemahannya pun adalah ‘pengunduran wahid’ dan bukannya satu pengunduran.

2. Pola dasar kalimat Bahasa Arab adalah P(V) + S(N), seperti

:ذهب زيد إلى المدرسة

P(V)  S(N)Kalimat ذهب زيد إلى المدرسة adalah kalimat berita. Jika nomina (subjek) didahulukan, maka kalimat ini bertujuan untuk memberikan penekanan bahwa Zaidlah yang pergi ke sekolah, dan bukannya orang lain (lihat Khursyid 1985: 44).

3. Objek verba dapat diselangi unsur lain seperti:

وأثار رفض واحد اختصار جولته الخارجية أثناء حوادث عنف أوقعت 500 قتيل في كالمنتان والعودة إلى جاكرتا انتقادات حادة

‘Penolakan Wahid untuk mempersingkat lawatannya ke luar negeri di tengah-tengah terjadinya tindak kekerasan yang menelan korban 500 terbunuh di Kalimantan dan keengganannya untuk segera kembali ke Jakarta menimbulkan kritikan pedas’.

4. Serigkali partikel dalam Bahasa Arab merupakan bagian dari idiom verba berpreposisi yang menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam proses penerjemahan, seperti::

وأعرب عن اعتقاده بأن إصدار مجلس النواب مذكرة ضد الرئيس عبد الرحمن واحد قلل مصداقية الرئيس وأثر بشكل مباشر أو غير مباشر على مصداقية الحكومة

‘Ia menyatakan keyakinannya bahwa dikeluarkannya memorandum oleh DPR sebagai peringatan terhadap Gus Dur menyebabkan berkurangnya kredibilitasnya dan baik secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh pula pada kredibilitas pemerintah’.

Preposisi عن merupakan bagian tak terpisahkan dari verba أعرب sehingga membentuk makna menyatakan, dan preposisi على merupakan bagian dari verba أثر untuk membentuk makna berpengaruh pada

.5. Verba untuk majhul dalam bahasa Arab digunakan jika subjeknya sudah diketahui sehingga tidak umum memunculkan subjek (‘Inaniy 1996:67). Maka dalam bahasa Arab hanya ada kontruksi seperti:  ويواجه واحد الذي انتخب في أكتوبر 1999 ضغوطا متزايدة‘Gus Dur yang terpilih sebagai presiden pada Oktober 1999 mendapat tekanan terus menerus’.

Dalam bahasa Indonesia kita dapat mengatakan “Gus Dur dipilih oleh anggota DPR sebagai Presiden” sebagai kalimat pasif yang bila diterjemahkan ke dalam bahasa Arab akan berubah menjadi kalimat aktif:انتخب أعضاء مجلس النواب عبد الرحمن واحد رئيساAtauالنواب عبد الرحمن واحد انتخبه أعضاء مجلس النواب رئيساDalam kedua kalimat di atas verba انتخب muncul dalam bentuk ma’lum.

Budaya

Masalah Penerjemahan teks yang hendak diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun tidak hanya berkaitan dengan masalah kebahasaan, tetapi juga dengan masalah budaya. Di antaranya, sebagaimana dikemukakan oleh Newmark (1988):

1. Ekologi:Flora, fauna, angin, dataran, bukit: Kata-kata وصية, سائبة, بحيرة, dan حام dalam Surah Al-Ma’idah 103 tidak mendapatkan padanannya dalam bahasa Indonesia sehingga terjemahannya berbunyi:“Allah sekali-kali tidak pernah mensyariatkan adanya bahirah, sa’ibah, wasilah dan ham…”. Keempat kata tersebut adalah jenis unta betina.

Dalam terjemahan Surah Maryam 25 terdapat kata kurma sebagai berikut: وهزي إليك بجذع النخلة تساقط عليك رطبا جنيا“Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan mengugurkan buah kurma yang masak kepadamu”.Pohon kurma sebagai padanan kata النخلة dan buah kurma sebagai padanan kata رطب. Pemadanan kata terakhir dengan buah kurma sebetulnya kurang tepat karena kata kurma merupakan kata generic yang dalam bahasa Arab disebut تمر. Bila buah tersebut basah disebut   رطب dan bila kering disebut قسب (As-Sa’alabi wafat tahun 1038 M).2. Budaya material, di antaranya:

a. Makanan: Dajaj bel Laban, Kofta, Hummus bi Tahina, Shakshouka.

b. Pakaian: برقع, ملاءة, جلابية, جلباب, خف, كوفية, عقال

c. Senjata: منجنيقb. 3. Agama: Fidyah, junub, tayammum, dsb.c. Isyarat dan kebiasaan:ولا تجعل يدك مغلولة إلى عنقك ولا تبسطها كل البسط فتقعد ملوما محسورا‘Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal’. (QS al-Isra, 29).

‘Tangan terbelenggu pada leher’ adalah simbol kikir yang bersumber pada isyarat tangan yang dikenal di kalangan bangsa Arab.

Piranti yang  Harus Dimiliki Penerjemah

Dengan adanya sistem yang berbeda antara Bsu dan Bsa di samping perbedaan budaya yang sangat erat hubungannya dengan kedua bahasa tersebut maka seseorang yang hendak menjadi penerjemah atau melakukan penerjemahan hendaknya membekali dirinya dengan dua macam piranti atau alat, yaitu (a) piranti intelektual (Sykes 1989:35) dan (b) piranti praktis (Castellano 1989:175)

Yang dimaksud dengan piranti intelektual adalah:1. Pengetahuan tentang Bsu yang mencakup:

a. Mengenal kata-kata dan karkteristiknya sebagai satuan leksikal termasuk variasi makna yang dimilikinya.

b. Mengetahui tingkat gaya yang ditunjukkan oleh pemilihan kata tertentu.

c. Memahami struktur dan kategori gramatikal Bsu.

d. Cukup familiar dengan kehidupan Negara dimana Bsu dipergunakan.

2. Pengetahuan tentang Bsa:

a. Ketepatan memilih kata-kata; mampu membedakan makna antara kata-kata yang bersinonim.

b. Ketepatan memilih urutan kata; mengetahui perbedaan dalam penekanan dan nada, bahkan dalam makna yang diakibatkan oleh perubahan posisi kata.

c. Ketepatan memilih tanda baca; mengetahui perbedaan penekanan yang diakibatkan oleh

perubahan tanda baca.

3. Pengetahuan yang luas tentang subjek teks yang hendak diterjemahkan.

Sementara yang dimaksud dengan piranti praktis adalah perlengkapan yang harus dimiliki oleh seorang penerjemah, di antaranya:

1. Aneka ragam kamus, seperti kamus yang berkenaan dengan Bsu dan Bsa dan kamus yang khusus berisi disiplin ilmu tertentu seperti kamus elektronik, kamus hukum, kamus biologi, dsb. Kamus-kamus ini baik yang berupa kamus konvensial (berbentuk buku) maupun kamus elektronik dalam bentuk CD-ROM.

2. Kliping iklan dan koleksi berbagai lebel produk

3. Komputer.4. Akses ke internet.

Kiat-kiat Penerjemahan Penerjemahan adalah pengalihan makna dari Bsu ke dalam Bsa. Menurut Larson (1984:3), pengalihan ini dilakukan dari bentuk bahasa pertama ke dalam bentuk bahasa kedua melalui struktur semantik. Yang dialihkan dan yang harus dipertahankan adalah makna, sementara bentuk boleh berubah. Untuk itu bila kita hendak menerjemahkan petunjuk pemakaian shampoo ke dalam bahasa Arab seperti berikut:“Basahilah rambut anda dan berilah shampoo dan keramaslah rambut anda sambil dipijat-pijat. Biarkanlah barang sejenak sebelum dibilas. Ulangi bila perlu”.

Kita harus ingat bahwa bahasa Arab mengenal genus. Verba imperatif basahilah, berilah shampoo, keramaslah, biarkanlah, dan ulangi dalam bahasa

Indonesia bisa ditunjukan kepada feminin dan juga pada maskulin. Untuk mengatasi masalah ini, penerjemah harus memilih verba yang netral yaitu dengan verba mabni li al-majhul seperti dalam petunjuk pemakaiaan shampoo berikut:
يوضع الشامبو على الشعر المبلل. يدلك الشعر برفق, يترك على الشعر لمدة دقيقة أو دقيقتان ثم يغسل بالماء جيدا. تكرر هذه العملية عند الحاجة (pada kemasan Shampo Pantene Saudi)

Penerjamahan Kultural

Bila kata atau ungkapan yang hendak diterjemahkan itu bersifat kultural seperti dikemukakan di atas, maka di antara kiat untuk menerjemahkanya adalah dengan melakukan:

a. Adaptasi, yaitu pengupayaan padanan kultural antara dua situasi tertentu (Machali 1996 75, Newmark 1988:91). Sebutan penerima surah yang hendak dituju seperti: Kepada Yang TerhormatBapak/Ibu______ Yang biasa terdapat di dalam permulaan surah bahasa Indonesia, bila hendak diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, harus dilihat  terlebih dahulu kepada siapa surah itu ditujukan. Sebutan Bapak harus disesuaikan dengan kedudukan atau tingkat sosial penerima surah tersebut. Buku pedoman penulisan surah menyurat bahasa Arab Kayfa Taktub wa Taktubin Ajmal Al-Rasa’il Al-Asriyyah li kull Al-Munasabat (Beirut 1974), memberikan pedoman sebagai berikut:

Jenis Penerima Surah Sebutan Yang Digunakan
Kepala-kepala Instansi, Perusahaan سيادة رئيس دائرة ….. المحترمحضرة رئيس مصلحة ….. المحترمالسيد مدير بنك ….. الأكرم
Gubernur سعادة محافظ مدينة ….. المحترم
Menteri معالي وزير ….. الأكرمصاحب المعالي وزير ….. المحترم
Pimpinan Kabinet, Dewan Menteri صاحب السعادة رئيس الوزراء الأكرمسيادة رئيس مجلس الوزراء المعظمدولة رئيس مجلس الوزراء الأكرم
Pimpinan DPR/MPR صاحب الدولة رئيس المجلس النيابي الأفخمصاحب العطوفة رئيس مجلس النواب الأكرم
Kepala Negara حضرة صاحب الفخامة رئيس الجمهورية المعظم سيادة رئيس الجمهورية الأفخم
Pimpinan Lembaga Keagamaan فضيلة الشيخ فلان أداك الله نفعه لعبادهصاحب السماحة مفتي ….. المحترم
Tokoh Masyarakat حضرة الوجيه الفاضل فلان المحترمحضرة السيد الفاضل فلان الأكرم

Khusus untuk sebutan raja di Saudi Arabia, biasa digunakan:صاحب الجلالة خادم الحرمين الشريفين الملك بن عبد العزيزKemudian, surah bahasa Arab biasanya ditutup dengan ungkapan-ungkapan klise seperti:1- وختاما أجد نفسي ملزما بالتعبير عن شكري وامتناني مرة أخرى لما بذلتموه نحوي من العناية والاهتمام2- وختاما تفضلوا بقبول أسمى عواطف المودة الصادقة والسلام3- وفي الختام أرجو لكم دوام التوفيق والتمتع بالصحة والسلامة على طول الأيام4- وتفضلوا بقبول فائق التحية والاحترام من صديقكم المخلص

b. Pemadanan Berkonteks, yaitu pemberian suatu informasi dalam konteks agar maknanya jelas (Machali 1996:75). Kata yayasan dalam bahasa Indonesia pada umumnya digunakan untuk lembaga-lembaga yang mengelola kegiatan sosial. Kata ini seringkali diterjemahkan dalam bahasa Arab menjadi مؤسسة yang dalam bahasa Arab bisa digunakan untuk perusahaan komersial (firma). Maka yayasan ibnu sabil yang mengelola anak-anak terlantar, umpanya, sebaiknya diterjemahkan menjadi مؤسسة ابن سبيل الخيرية dengan penambahan adjektiva  الخيرية untuk memberikan informasi bahwa yayasan tersebut bersifat sosial bukan komersial.

c. Pemadanan Bercatatan. Langkah ini dilakukan bila segala prosedur penerjemahan tidak dapat menghasilkan padanan yang diharapkan, seperti kata-kata bahirah, sa’ibah, wasilah dan ham sebagaimana tercantum pada awal tulisan ini yang padanan leksikalnya sama sekali tidak ada dalam bahasa Indonesia (lihat Machail 1996:76). Catatan dapat diberikan baik sebagai catatan kaki, seperti yang dilakukan pada penerjemahan keempat kata tersebut (lihat Al-Qur’an dan Terjemahannya hlm. 179-180), maupun catatan akhir pada setiap akhir bab. Jika mengikuti kaidah EYD, keempat kata tersebut mestinya ditulis dengan huruf miring karena merupakan kata-kata asing. Mujurnya keempat kata tersebut tidak dikenal dalam bahasa Indonesia, tidak sebagaimana kata fitnah yang menjadi faux amis dengan kata fitnah bahasa Indonesia. Karena tidak ditulis dengan huruf miring itu, banyak orang mengira bahwa kata fitnah dalam terjemahan berikut:

والفتنة أشد من القتل

Dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan (QS 2:191)

والفتنة أكبر من القتل

Dan fitnah itu lebih besar (dosanya) daripada pembunuhan (QS 2:217).

Adalah sama dengan fitnah dalam pengertian bahasa Indonesia, yaitu sebagaimana yang tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia,:perkataan bohong atau tanpa dasar kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang (seperti menodai nama baik, merugikan kehormatan orang). Memfitnah berarti menjelekkan nama orang (menodai nama baik, merugikan kehormatan, dsb). Akibatnya, lahirlah ungkapan “Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan”.

Padahal fitnah dalam kedua ayat di atas artinya adalah: Menimbulkan kekacauan, seperti mengusir sahabat dari kampung halamannya, merampas harta mereka dan menyakiti atau mengganggu kebebasan mereka beragama.(Al-Qur’an dan Terjemahnya, catatan kaki nomor 117). Penganiayaan dan segala perbuatan yang dimaksud-kan untuk menindas Islam dan Muslimin (Al-Qur’an dan Terjemahnya, catatan kaki nomor 135).

Penutup

Dengan mengikuti kiat-kiat penerjemahan di atas, harapan saya adalah Anda dapat menghasilkan terjemahan yang baik, yaitu terjemahan yang does not sound like a translation (Nilda dan Taber 1974:12). Semoga.

  1. Menarik buat kami: Tolong bantu ke bahsa arab
    1. Company name
    2. Country of irigin
    3. Product code
    4. Material Standard
    5. Size
    6. Type

    • ayup purnawan
    • Mei 8th, 2009

    udah berapa buku mas yang diterjemahin?.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: