Nasib Bahasa Arab

Nasib Bahasa Arab
oleh Muhammad Aga S

PeKa Online-Yogyakarta, Seorang teman dekat saya, yang berusia lebih muda dari saya, sedang sangat bersemangat untuk mempelajari bahasa Korea. Setiap saat dia membawa buku pelajaran bahasa Korea. Dia berceritera kepada orang-orang yang ditemuinya betapa mudah mempelajari bahasa Korea. “Gurunya lucu-lucu, ekspresif”, katanya.

Kemudian kami masuk ke percakapan yang lebih serius. Percakapan kami berkisar tentang mempelajari bahasa. Dia berceritera, betapa sebelum belajar bahasa Korea ini, dia telah mempelajari bahasa Arab selama kurang lebih dua bulan. Dalam dua bulan itu, dia mendapati bahwa mempelajari bahasa Arab itu tidak menyenangkan.

Setelah dua bulan itu, dia berhenti mempelajari bahasa Arab, meskipun dia tahu betapa pentingnya mempelajari bahasa Arab. Dia sangat paham bahwa sebagai seorang muslim, dia perlu memahami Al Quran. Itu hanya bisa dilakukan manakala dia memahami bahasa Arab.

Percakapan kami berkembang karena kemudian berdatangan beberapa teman yang juga pernah mempelajari bahasa Arab. Dan semua orang itu sampai pada kesimpulan, mempelajari bahasa Arab itu tidak menyenangkan.

Ada hal yang ingin saya garis bawahi disini. Mempelajari bahasa asing memang merupakan hal yang sulit. Artinya belajar bahasa Korea itu sulit, belajar bahasa Arab juga sulit, bahkan belajar bahasa Inggris pun sulit.

Namun, kita lihat perkembangan yang terjadi belakangan ini. Banyak bahasa asing masuk ke Indonesia dan dalam sekejap sudah banyak orang yang tertarik, bahkan mampu menguasai bahasa-bahasa tersebut.

Sekarang lihat bahasa Arab. Bahasa ini sudah masuk dan dipelajari di Indonesia sejak pengaruh Islam mulai masuk ke Indonesia. Tetapi lihatlah, ada berapa orang yang mampu berbahasa Arab dengan baik. Memang tetap ada, tetapi pertambahan jumlahnya sangatlah lambat jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa lain.

Pertanyaan yang seharusnya muncul adalah “mengapa?”

Aktivis-aktivis Islam beranggapan bahwa mempelajari bahasa Arab merupakan hal yang penting, tetapi lihat ada berapa orang aktivis Islam yang mampu berbahasa Arab dengan baik. Santri-santri pondok pesantren mungkin punya persentase yang lebih baik tentang kemampuan berbahasa Arab, tetapi apa semua orang harus masuk pesantren. Bukankah Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin, artinya agama semua orang, bukan agama kaum santri saja. Bukankah bahasa Arab merupakan bagian integral dari pengajaran agama Islam, tetapi mengapa hanya sedikit orang yang mampu berbahasa Arab?

Maaf, saya akan menyerang “kemalasan” para pendakwah Islam, para aktivis Islam dan kaum santri sebagai penyebab ini semua. Lihatlah metode pengajaran bahasa Arab. Metode itu telah dipakai selama ratusan tahun, hampir tanpa perubahan mendasar yang berarti. Mengalir berulang-ulang setiap tahun.

Bandingkan dengan metode ‘membaca’ Al Quran yang terus berkembang. Mulai dari tradisional, sistem Iqra’, sistem An-Nur, dan seterusnya. Perkembangan dan keragaman metode pengajaran ini menjadikan semakin banyak orang yang mempelajari cara membaca Al-Quran dan memang menghasilkan semakin banyak orang yang mampu membaca Al Quran.

Bandingkan juga dengan pengajaran bahasa Inggris yang mempunyai berbagai macam metode yang menjadikannya sebagai salah satu bahasa yang paling populer di dunia. Bahasa Korea, Jepang, China, Prancis, dan lain sebagainya telah menemukan dan mengembangkan berbagai metode yang membuat banyak orang tertarik mempelajarinya. Ya.. minimal tertarik mempelajarinya.

Kembali ke bahasa Arab, harus ada pihak-pihak yang secara serius mempelajari pengembangan metode pengajaran bahasa Arab dan kemudian menyebarkan (jangan-jangan sudah ditemukan metode baru yang sangat menarik tetapi tidak disebarkan) kepada masyarakat. Saya percaya hal itu sangat mungkin untuk dilakukan. Ya.. minimal agar orang tertarik mempelajarinya!

http://www.peka.or.id/zoom.php?id=4&cd=2&th=02&bl=09

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: