Pembentukan Kata dalam Bahasa Arab

Pembentukan Kata dalam Bahasa Arab

Beberapa kata baru terbentuk melalui proses penggabungan dua kata atau lebih. Perpaduan ini sedikitnya dapat berwujud ke dalam beberapa jenis perpaduan kata berikut: affixation (afiksasi), compound (pemajemukan), acronyms (akronim), back-formations (pembentukan susut), abbreviations (abreviasi), dan blends (paduan). Berikut akan dijelaskan secara terperinci masing-masing jenis perpaduan kata tersebut.

A. Affixation (Afiksasi)

Beberapa pakar linguistik terkemuka memberikan definisi tentang afiks. Menurut Matthews (1997:11), afiks adalah “any element in the morphological structure of word other than a *root.” Robins (1992:245), seorang ahli bahasa dari Universitas London, lebih cenderung menganggap afiks sebagai istilah umum yang mengacu kepada morfem formatif dan bukan berupa akar yang muncul berulang dalam kata. Dengan definisi yang dikemukakan Mattthews dan Robins ini, mungkin agak sulit bagi peminat bahasa menggambarkan afiksasi sebagai sebuah bagian proses morfologis. Oleh karena itu, untuk memudahkan peminat bahasa dalam memahami konsep afiksasi, secara sederhana afiks bisa saja didefinisikan sebagai morfem terikat yang selalu menempel pada kata dasar.

Penambahan afiks dapat dilakukan di depan (= di sebelah kiri), di belakang (= di sebelah kanan), disisipkan, di depan dan belakang (= sebagian di kiri dan sebagian di kanan) morfem dasar, atau sebagai unsur perangkai di dalam kata majemuk yang berada di antara dua leksem, dan berada di tengah namun berupa vokal. Penambahan yang diimbuhkan di depan (=di sebelah kiri) morfem dasar disebut prefiks, yang diimbuhkan di belakang (= di sebelah kanan) morfem dasar disebut sufiks, yang diimbuhkan sebagai sisipan morfem dasar disebut infiks, yang diimbuhkan di depan dan belakang (= sebagian di kiri dan sebagian di kanan) morfem dasar disebut konfiks, yang menjadi unsur perangkai disebut interfiks, sedang yang berupa vokal di tengah disebut sebagai transfiks.

Penambahan afiks itu sendiri juga mengalami dua pengubahan: pengubahan gramatikal dan pengubahan leksikal. Pengubahan gramatikal inilah yang nantinya disebut sebagai gejala infleksi, sedang pengubahan leksikal disebut sebagai gejala derivasi. Infleksi, menurut Matthews (1997:178), adalah “any form or change or form which distinguishes different gramatical form of the same lexical unit.” Sedang derivasi didefinisikannya (1997:94) sebagai “any series of changes in which a form or structure is altered by successive processes.”

Berikut beberapa contoh prefiks, sufiks, infiks, konfiks, interfiks, dan transfiks dalam bahasa Arab yang disajikan secara singkat. Dalam makalah sebelumnya, penulis telah menyajikannya pada secara lebih lengkap, sehingga penulis merasa tidak perlu mengulangi penjelasannya secara panjang lebar.

1. Prefiks

a. Pengubahan Gramatikal

s-q-th ‘jatuh’ a-squthu ‘aku jatuh’

k-n-s ‘menyapu’ ta-knisu ‘kamu menyapu’

r-q-d ‘tidur’ ya-rqudu ‘dia (sedang) tidur’

dh-r-b ‘memukul’ na-dhribu ‘kita memukul’

f-dh-l ‘utama’ a-fdhal ‘lebih/paling utama’

sy-gh-l ‘sibuk’ a-syghal ‘menyibukkan’

q-f-r ‘sepi’ a-qfara ‘menjadi sepi’

sh-b-h ‘pagi’ a-shbaha ‘masuk waktu pagi’

f-t-h ‘membuka’ in-fataha ‘menjadi terbuka’

gh-f-r ‘mengampuni’ ist-ghfara ‘meminta ampun’

q-r-r ‘menetap’ ista-qarra ‘menetap’

h-s-n ‘bagus’ ista-hsana ‘menganggap bagus’

b. Pengubahan Leksikal

dh-r-b ‘memukul’ ma-dhrab ‘tempat memukul’

sy-r-b ‘minum’ ma-syrab ‘waktu minum’

dh-r-b ‘memukul’ mi-dhrab ‘alat pukul’

h-j-r ‘batu’ ista-hjara ‘berubah menjadi batu’

h-j-z ‘Hijaz’ a-hjaza ‘masuk wilayah Hijaz’

2. Sufiks

a. Pengubahan Gramatikal

j-l-s ‘duduk’ jalas-tu ‘aku duduk’

f-k-r ‘berfikir’ fakar-ta ‘kamu (laki-laki) berfikir’

f-h-m ‘berharap’ fahim-ta ‘kamu (wanita) faham’

dh-r-b ‘memukul’ dharab-tumaa ‘kamu (berdua) memukul’

f-q-d ‘hilang’ faqad-tum ‘kalian kehilangan’

f-k-r ‘berfikir’ fakar-tunna ‘kamu (jamak) berfikir’

r-j-a’ ‘kembali’ raja’-naa ‘kita kembali’

n-k-h ‘menikah’ nakah-at ‘ia (wanita) menikah’

b. Pengubahan Leksikal

n-sh-h ‘nasihat’ nushh-i ‘nasehatiku’

y-s-r ‘mudah’ yusru-ka ‘kemudahanmu (laki-laki)’

r-z-q ‘rezeki’ rizqu-ki ‘rezekimu (wanita)’

f-t-h ‘kebebasan’ futuuhu-kumaa ‘kebebasan (kamu berdua)’

r-z-q ‘rezeki’ rizqu-kum ‘rezeki kalian’

s-m-‘a ‘pendengaran’ sam’u-naa ‘pendengaran kita

w-j-d ‘perasaan’ wajdu-naa ‘perasaan kita’

r-f-q ‘teman’ rifqu-naa ‘teman kita’

‘a-sh-r ‘masa’ ‘ashr-i ‘kontemporer’

b-sy-r ‘manusia’ basyar-i ‘manusiawi’

‘a-sh-b ‘saraf’ ‘ashab-iyyah   ‘fanatisme’

3. Infiks

a. Pengubahan Gramatikal

dh-r-b ‘memukul’ dha-a-raba ‘saling memukul’

sh-f-h ‘berjabat-tangan’ sha-a-faha ‘saling berjabat-tangan’

sh-l-h ‘memperbaiki’ sha-a-laha ‘saling memperbaiki’

b. Pengubahan Leksikal

k-t-b ‘menulis’ ka-a-tib ‘penulis’

n-sh-r ‘menolong’ na-a-shir ‘penolong’

k-t-b ‘menulis’ kita-a-b ‘buku’

4. Konfiks

a. Pengubahan Gramatikal

l-m-s ‘menyentuh’ a-lmas-u ‘aku menyentuh’

j-l-s ‘keluar’ ta-jlis-u ‘aku keluar’

sy-r-b ‘minum’ na-syrab-u ‘aku minum’

d-kh-l ‘masuk’ a-dkhal-a ‘memasukkan’

b-k-m ‘bisu’ a-bkam-a ‘menjadi bisu’

k-s-r ‘pecah’ in-kasar-a ‘menjadi pecah’

n-sh-r ‘menolong’ ista-nshar-a ‘meminta tolong’

a-y-m ‘janda’ ta-ayyam-a ‘menjadi janda’

b. Pengubahan Leksikal

dh-r-b ‘memukul’ ma-dhrab-un ‘tempat memukul’

n-sh-r ‘menolong’ ma-nshar-un ‘waktu menolong’

a-k-l ‘makan’ mi-`kaal-un ‘alat makan’

5. Transfiks

a. Pengubahan Gramatikal

d-r-s ‘belajar’ d-a-r-a-s ‘ia [laki-laki] belajar’

f-r-h ‘senang’ f-a-r-r-a-h-a ‘menyenangkan’

m-d-d ‘memanjangkan’ m-a-d-d-a-d-a ‘memanjang-manjangkan’

k-f-r ‘mengkafiri’ k-a-f-f-a-r-a ‘menisbatkan kekafiran’

n-z-l ‘turun’ y-a-n-z-i-l-u ‘dia (sedang) turun’

b. Pengubahan Leksikal

t-r-k ‘meninggalkan’ m-a-t-r-u-u-k ‘yang ditinggalkan’

h-k-m ‘menghukumi’ m-a-h-k-a-m-a-h ‘tempat pengadilan’

th-b-‘a ‘mencetak’ m-a-th-b-a-‘a-h ‘percetakan’

f-t-h ‘membuka’ f-a-a-t-i-h ‘pembuka’

6. Interfiks

wajh-hasan à wajh-un-hasan (wajah yang bagus)

khauf-shabiy à khauf-ush-shabiy (ketakutan seorang anak)

birr-walad à birr-ul-walad (bakti anak)

B. Compounds (Pemajemukan)

Matthews (1997:66) mendefinisikan compound sebagai “a word formed from two or more units that are themselves words.” Menurut Fromkin dan Rodman (1998:84), compound adalah “new word may be formed by combining words together.” Dengan kata lain, secara lebih singkat, compound merupakan bentukan kata baru dengan menggabungkan dua kata atau lebih sebagai suatu kata baru.

Compounding sendiri oleh para ahli bahasa Indonesia disepadankan dengan “pemajemukan”. Alwi, dll. (1998:151) menjelaskan bahwa pemajemukan terjadi dengan menggabungkan suatu kata dengan kata lainnya sehingga penggabungan kata itu menyebabkan makna kata baru yang tidak sama dengan makna asal masing-masing kata-kata itu namun maknanya tetap masih bisa dirunut dari makna masing-masing kata yang tergabung.

Namun yang perlu diperhatikan, menurut para ahli itu, pemajemukan ini jangan sampai disamakan dengan idiom karena keduanya memang berbeda. Idiom sendiri sesungguhnya juga merupakan perpadaun dua kata atau lebih. Hanya saja perpaduannya tidak secara langsung dapat ditelusuri dari makna masing-masing kata yang tergabung.

Berikut beberapa contoh compound dalam bahasa Arab:

haatif + jawaal (telepon + berputar-putar) à haatif jawwaal (telpon genggam)

nathth + habl (lompat + tali) à naththul habl (lompat tali)

barr + maa’ (darat + air) à barrmaa’i (amphibi)

habl + shaut (tali + suara) à habl shauti (tali suara)

khizanah + kutub (penyimpanan + buku) à khizaanatul kutub (perpustakaan)

adab + khaanah (etika + lajur) à adabkhaanah (toilet)

Pada bagian ini juga tidak dapat diabaikan pembahasan tentang sesuatu ‘kata’ yang mirip leksem. Seorang Guru Besar Linguistik pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Anton M. Moeliono, menyebut ‘kata’ mirip leksem ini sebagai leksoid. Kridalaksana (1996:9) lebih menyukai menyebut ‘kata’ yang sama sebagai proleksem. Berikut beberapa contoh leksoid atau proleksem dalam bahasa Arab:

qabla (= sebelum) à qabla al-zawaaj (sebelum menikah)

ba‘da (= sesudah) à ba‘da al-milaad (setelah masehi)

baina (= di antara) à baina al-naas (di antara banyak orang)

dhidda (= kontra) à dhidda al-ra‘iyyah (kontra rakyat)

C. Acronyms (Akronim)

Kridalaksana (2001:5) mendefinisikan akronim sebagai “kependekan yang berupa gabungan huruf atau suku kata, atau bagian lain, yang ditulis dan dilafalkan sebagai kata yang sesuai dengan kaidah fonotaktik bahasa bersangkutan.” Lebih lanjut, Kridalaksana menyebut proses pemendekan itu sebagai akronimi. Menurut Fromkin dan Rodman (1998:87), akronim hanyalah pemendekan dari inisial beberapa kata yang dipendekkan. Definisi yang berbeda juga dikemukakan oleh Mathhews (1997:6). Ia mengatakan bahwa akronim adalah “a word formed from the initial letters of two or more successive words.”

Berikut beberapa contoh akronim dalam bahasa Arab:

th à thab’ah (cetakan)

h à hijriyyah (bulan hijriyah)

sh à shahiifah (halaman)

sh.b à shunduuqul bariid (kotak pos)

a.d à ustaaadz duktuur (Prof. Dr.)

h à tahwiil (perpindahan jalur trensmisi)

D. Back Formations (Pembentukan Susut)

Menurut Fromkin dan Rodman (1998:87), suatu kata baru dapat saja masuk ke dalam suatu bahasa lantaran salah dalam analisis morforlogisnya. Inilah yang disebut dengan back formation. Definisi yang mudah dipahami dapat ditemukan dari definisi yang dikemukakan Matthews (1997:33). Ia mengatakan bahwa back formation adalah “the formation of a simple or simpler word from one understood as derived.” Singkatnya, back formation terjadi lantaran kesalahan dalam memahami suatu kata sebagai bagian derivasi kata yang lain.

Berikut beberapa contoh back formation dalam bahasa Arab:

baatir (tajam) à yang secara salah dianggap berakar dari kata b-t-r

baasil (singa) à yang secara salah dianggap berakar dari kata b-s-l

simsaar (makelar) à yang secara salah dianggap berakar dari kata s-m-s-r

syurthah (polisi) à yang secara salah dianggap berakar dari kata sy-r-th

nashiil (kepala atas) à yang secara salah dianggap berakar dari kata n-sh-l

E. Abbreviations (Abreviasi)

Abreviasi didefinisikan oleh Fromkin dan Rodman (1998:88) sebagai “longer words or phrases also may become lexicalized.” Proses ini, menurut dua ahli yang tinggal di Amerika ini, terkadang disebut sebagai kliping (clipping). Oleh karena itu, tak heran bila Matthews (1997:1) tidak memberikan definisi pada lema abbreviation. Ia bahkan tampak menyebut acronym, blend, dan clipping sebagai bagian dari abbreviation dengan perbedaan hierarkis dan bukan sejajar. Ia menulis pada lema abbreviation sebagai berikut: “See acronym; blend, clipping.” Karena acronym telah dibahas dan blend akan dibahas berikutnya, maka sekarang kita akan membuka apa itu pengertian clipping menurut Matthews.

Menurutnya, clipping adalah “process of word formation in which an existing form is abbreviated” (1997:56). Ini pula yang mendasari Fromkin dan Rodman, seperti disinggung di atas, menyebut proses abreviasi sebagai proses kliping. Untuk lebih mudahnya, penulis ingin mendefinisikan abreviasi sebagai “proses pemendekan yang mengambil suku kata awal dari kata yang ingin dipendekkan.”

Berikut beberapa contoh clipping dalam bahasa Arab:

Faakis à faaksimilia (faksimili)

mininji’ à min aina ji’ta (darimana asal Anda)

shahh à shahiih (sehat)

dha‘ à dha‘iif (lemah)

F. Blends (Paduan)

“Word formed by joining the beginning of one form to the end of onather,” demikian Matthews (1997:40) mendefiniskan bkend. Definisi yang berbeda dikemukakan oleh Kridalaksana (2001:152). Ia menyebutkan sedikitnya ada 2 definisi yang menjelaskan tentang blend (i) hasil penggabungan beberapa morfem menjadi kata yang padat; dan (ii) kata yang diciptakan dari kata-kata yang sudah ada. Staf pengajar pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia ini juga menyebutkan tentang loan blend, yang dalam pembahasan ini kurang relevan untuk ditampilkan. Di lain pihak, Fromkin dan Rodman (1998:89) hanya mengatakan bahwa blend adalah “two words may be combined to produce blend.” Lebih lanjut, ia mengatakan, “Blends are similar to compounds but parts of the words that are combined are deleted and so they are ‘less than’ compounds.”

Dari beberapa definisi yang dikemukakan, penulis lebih sependapat dengan pendapat yang dikemukan oleh Kridalaksana. Definisi Kridalaksana tampak lebih luwes dan lebih universal mengakomodasi bahasa-bahasa yang ada, termasuk di dalamnya adalah bahasa Arab. Karena bila mengikuti definisi yang dikemukakan Matthews, Fromkin dan Rodman mungkin agak sulit menemukan contohnya dalam bahasa Arab. Menyangkut blend, sulit sekali ditemukan dalam bahasa Arab. Namun, meski hanya sedikit, berikut penulis sajikan beberapa contoh blend dalam bahasa Arab:

hamdalah à alhamdulillah

basmalah à bismillaah 

shal‘am à shallahllaahu ‘alaihi wa sallam

Iklan

Kiat Penerjemahan Bahasa Arab

Kiat Penerjemahan Bahasa Arab

Pendahuluan

Setiap bahasa adalah sui generis (Catford 1965:27). Maksudnya, ia mempunyai sistem tersendiri. Nida dan Taber (1974:3) menyebutkan each language has its own genius. Karenanya, setiap bahasa mempunyai karakteristik tertentu yang berbeda dengan bahasa yang lainnya, misalnya dalam pembentukan kata, pola urutan frase, dlsb. Agar kita dapat mengomunikasikan pesan bahasa sumber (Bsu) ke dalam bahasa sasaran (Bsa), kita harus memperhatikan karakteristik setiap bahasa.

Beberapa Karakteristik Bahasa Arab

1. Bahasa Arab mengenal genus, baik dalam verba maupun dalam nomina

.الألاف يتظاهرون للمطالبة باستقالة واحد

‘Ribuan massa berdemonstrasi menuntut mundurnya wahid’.

Bahasa Arab mengharuskan adanya kesesuaian genus antara nomina dan adjektiva, maka frase pasti konstruksi idafah dan kataواحد bukanlah adjektiva yang menerangkan nomina استقالة sehingga terjemahannya pun adalah ‘pengunduran wahid’ dan bukannya satu pengunduran.

2. Pola dasar kalimat Bahasa Arab adalah P(V) + S(N), seperti

:ذهب زيد إلى المدرسة

P(V)  S(N)Kalimat ذهب زيد إلى المدرسة adalah kalimat berita. Jika nomina (subjek) didahulukan, maka kalimat ini bertujuan untuk memberikan penekanan bahwa Zaidlah yang pergi ke sekolah, dan bukannya orang lain (lihat Khursyid 1985: 44).

3. Objek verba dapat diselangi unsur lain seperti:

وأثار رفض واحد اختصار جولته الخارجية أثناء حوادث عنف أوقعت 500 قتيل في كالمنتان والعودة إلى جاكرتا انتقادات حادة

‘Penolakan Wahid untuk mempersingkat lawatannya ke luar negeri di tengah-tengah terjadinya tindak kekerasan yang menelan korban 500 terbunuh di Kalimantan dan keengganannya untuk segera kembali ke Jakarta menimbulkan kritikan pedas’.

4. Serigkali partikel dalam Bahasa Arab merupakan bagian dari idiom verba berpreposisi yang menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam proses penerjemahan, seperti::

وأعرب عن اعتقاده بأن إصدار مجلس النواب مذكرة ضد الرئيس عبد الرحمن واحد قلل مصداقية الرئيس وأثر بشكل مباشر أو غير مباشر على مصداقية الحكومة

‘Ia menyatakan keyakinannya bahwa dikeluarkannya memorandum oleh DPR sebagai peringatan terhadap Gus Dur menyebabkan berkurangnya kredibilitasnya dan baik secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh pula pada kredibilitas pemerintah’.

Preposisi عن merupakan bagian tak terpisahkan dari verba أعرب sehingga membentuk makna menyatakan, dan preposisi على merupakan bagian dari verba أثر untuk membentuk makna berpengaruh pada

.5. Verba untuk majhul dalam bahasa Arab digunakan jika subjeknya sudah diketahui sehingga tidak umum memunculkan subjek (‘Inaniy 1996:67). Maka dalam bahasa Arab hanya ada kontruksi seperti:  ويواجه واحد الذي انتخب في أكتوبر 1999 ضغوطا متزايدة‘Gus Dur yang terpilih sebagai presiden pada Oktober 1999 mendapat tekanan terus menerus’.

Dalam bahasa Indonesia kita dapat mengatakan “Gus Dur dipilih oleh anggota DPR sebagai Presiden” sebagai kalimat pasif yang bila diterjemahkan ke dalam bahasa Arab akan berubah menjadi kalimat aktif:انتخب أعضاء مجلس النواب عبد الرحمن واحد رئيساAtauالنواب عبد الرحمن واحد انتخبه أعضاء مجلس النواب رئيساDalam kedua kalimat di atas verba انتخب muncul dalam bentuk ma’lum.

Budaya

Masalah Penerjemahan teks yang hendak diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun tidak hanya berkaitan dengan masalah kebahasaan, tetapi juga dengan masalah budaya. Di antaranya, sebagaimana dikemukakan oleh Newmark (1988):

1. Ekologi:Flora, fauna, angin, dataran, bukit: Kata-kata وصية, سائبة, بحيرة, dan حام dalam Surah Al-Ma’idah 103 tidak mendapatkan padanannya dalam bahasa Indonesia sehingga terjemahannya berbunyi:“Allah sekali-kali tidak pernah mensyariatkan adanya bahirah, sa’ibah, wasilah dan ham…”. Keempat kata tersebut adalah jenis unta betina.

Dalam terjemahan Surah Maryam 25 terdapat kata kurma sebagai berikut: وهزي إليك بجذع النخلة تساقط عليك رطبا جنيا“Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan mengugurkan buah kurma yang masak kepadamu”.Pohon kurma sebagai padanan kata النخلة dan buah kurma sebagai padanan kata رطب. Pemadanan kata terakhir dengan buah kurma sebetulnya kurang tepat karena kata kurma merupakan kata generic yang dalam bahasa Arab disebut تمر. Bila buah tersebut basah disebut   رطب dan bila kering disebut قسب (As-Sa’alabi wafat tahun 1038 M).2. Budaya material, di antaranya:

a. Makanan: Dajaj bel Laban, Kofta, Hummus bi Tahina, Shakshouka.

b. Pakaian: برقع, ملاءة, جلابية, جلباب, خف, كوفية, عقال

c. Senjata: منجنيقb. 3. Agama: Fidyah, junub, tayammum, dsb.c. Isyarat dan kebiasaan:ولا تجعل يدك مغلولة إلى عنقك ولا تبسطها كل البسط فتقعد ملوما محسورا‘Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal’. (QS al-Isra, 29).

‘Tangan terbelenggu pada leher’ adalah simbol kikir yang bersumber pada isyarat tangan yang dikenal di kalangan bangsa Arab.

Piranti yang  Harus Dimiliki Penerjemah

Dengan adanya sistem yang berbeda antara Bsu dan Bsa di samping perbedaan budaya yang sangat erat hubungannya dengan kedua bahasa tersebut maka seseorang yang hendak menjadi penerjemah atau melakukan penerjemahan hendaknya membekali dirinya dengan dua macam piranti atau alat, yaitu (a) piranti intelektual (Sykes 1989:35) dan (b) piranti praktis (Castellano 1989:175)

Yang dimaksud dengan piranti intelektual adalah:1. Pengetahuan tentang Bsu yang mencakup:

a. Mengenal kata-kata dan karkteristiknya sebagai satuan leksikal termasuk variasi makna yang dimilikinya.

b. Mengetahui tingkat gaya yang ditunjukkan oleh pemilihan kata tertentu.

c. Memahami struktur dan kategori gramatikal Bsu.

d. Cukup familiar dengan kehidupan Negara dimana Bsu dipergunakan.

2. Pengetahuan tentang Bsa:

a. Ketepatan memilih kata-kata; mampu membedakan makna antara kata-kata yang bersinonim.

b. Ketepatan memilih urutan kata; mengetahui perbedaan dalam penekanan dan nada, bahkan dalam makna yang diakibatkan oleh perubahan posisi kata.

c. Ketepatan memilih tanda baca; mengetahui perbedaan penekanan yang diakibatkan oleh

perubahan tanda baca.

3. Pengetahuan yang luas tentang subjek teks yang hendak diterjemahkan.

Sementara yang dimaksud dengan piranti praktis adalah perlengkapan yang harus dimiliki oleh seorang penerjemah, di antaranya:

1. Aneka ragam kamus, seperti kamus yang berkenaan dengan Bsu dan Bsa dan kamus yang khusus berisi disiplin ilmu tertentu seperti kamus elektronik, kamus hukum, kamus biologi, dsb. Kamus-kamus ini baik yang berupa kamus konvensial (berbentuk buku) maupun kamus elektronik dalam bentuk CD-ROM.

2. Kliping iklan dan koleksi berbagai lebel produk

3. Komputer.4. Akses ke internet.

Kiat-kiat Penerjemahan Penerjemahan adalah pengalihan makna dari Bsu ke dalam Bsa. Menurut Larson (1984:3), pengalihan ini dilakukan dari bentuk bahasa pertama ke dalam bentuk bahasa kedua melalui struktur semantik. Yang dialihkan dan yang harus dipertahankan adalah makna, sementara bentuk boleh berubah. Untuk itu bila kita hendak menerjemahkan petunjuk pemakaian shampoo ke dalam bahasa Arab seperti berikut:“Basahilah rambut anda dan berilah shampoo dan keramaslah rambut anda sambil dipijat-pijat. Biarkanlah barang sejenak sebelum dibilas. Ulangi bila perlu”.

Kita harus ingat bahwa bahasa Arab mengenal genus. Verba imperatif basahilah, berilah shampoo, keramaslah, biarkanlah, dan ulangi dalam bahasa

Indonesia bisa ditunjukan kepada feminin dan juga pada maskulin. Untuk mengatasi masalah ini, penerjemah harus memilih verba yang netral yaitu dengan verba mabni li al-majhul seperti dalam petunjuk pemakaiaan shampoo berikut:
يوضع الشامبو على الشعر المبلل. يدلك الشعر برفق, يترك على الشعر لمدة دقيقة أو دقيقتان ثم يغسل بالماء جيدا. تكرر هذه العملية عند الحاجة (pada kemasan Shampo Pantene Saudi)

Penerjamahan Kultural

Bila kata atau ungkapan yang hendak diterjemahkan itu bersifat kultural seperti dikemukakan di atas, maka di antara kiat untuk menerjemahkanya adalah dengan melakukan:

a. Adaptasi, yaitu pengupayaan padanan kultural antara dua situasi tertentu (Machali 1996 75, Newmark 1988:91). Sebutan penerima surah yang hendak dituju seperti: Kepada Yang TerhormatBapak/Ibu______ Yang biasa terdapat di dalam permulaan surah bahasa Indonesia, bila hendak diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, harus dilihat  terlebih dahulu kepada siapa surah itu ditujukan. Sebutan Bapak harus disesuaikan dengan kedudukan atau tingkat sosial penerima surah tersebut. Buku pedoman penulisan surah menyurat bahasa Arab Kayfa Taktub wa Taktubin Ajmal Al-Rasa’il Al-Asriyyah li kull Al-Munasabat (Beirut 1974), memberikan pedoman sebagai berikut:

Jenis Penerima Surah Sebutan Yang Digunakan
Kepala-kepala Instansi, Perusahaan سيادة رئيس دائرة ….. المحترمحضرة رئيس مصلحة ….. المحترمالسيد مدير بنك ….. الأكرم
Gubernur سعادة محافظ مدينة ….. المحترم
Menteri معالي وزير ….. الأكرمصاحب المعالي وزير ….. المحترم
Pimpinan Kabinet, Dewan Menteri صاحب السعادة رئيس الوزراء الأكرمسيادة رئيس مجلس الوزراء المعظمدولة رئيس مجلس الوزراء الأكرم
Pimpinan DPR/MPR صاحب الدولة رئيس المجلس النيابي الأفخمصاحب العطوفة رئيس مجلس النواب الأكرم
Kepala Negara حضرة صاحب الفخامة رئيس الجمهورية المعظم سيادة رئيس الجمهورية الأفخم
Pimpinan Lembaga Keagamaan فضيلة الشيخ فلان أداك الله نفعه لعبادهصاحب السماحة مفتي ….. المحترم
Tokoh Masyarakat حضرة الوجيه الفاضل فلان المحترمحضرة السيد الفاضل فلان الأكرم

Khusus untuk sebutan raja di Saudi Arabia, biasa digunakan:صاحب الجلالة خادم الحرمين الشريفين الملك بن عبد العزيزKemudian, surah bahasa Arab biasanya ditutup dengan ungkapan-ungkapan klise seperti:1- وختاما أجد نفسي ملزما بالتعبير عن شكري وامتناني مرة أخرى لما بذلتموه نحوي من العناية والاهتمام2- وختاما تفضلوا بقبول أسمى عواطف المودة الصادقة والسلام3- وفي الختام أرجو لكم دوام التوفيق والتمتع بالصحة والسلامة على طول الأيام4- وتفضلوا بقبول فائق التحية والاحترام من صديقكم المخلص

b. Pemadanan Berkonteks, yaitu pemberian suatu informasi dalam konteks agar maknanya jelas (Machali 1996:75). Kata yayasan dalam bahasa Indonesia pada umumnya digunakan untuk lembaga-lembaga yang mengelola kegiatan sosial. Kata ini seringkali diterjemahkan dalam bahasa Arab menjadi مؤسسة yang dalam bahasa Arab bisa digunakan untuk perusahaan komersial (firma). Maka yayasan ibnu sabil yang mengelola anak-anak terlantar, umpanya, sebaiknya diterjemahkan menjadi مؤسسة ابن سبيل الخيرية dengan penambahan adjektiva  الخيرية untuk memberikan informasi bahwa yayasan tersebut bersifat sosial bukan komersial.

c. Pemadanan Bercatatan. Langkah ini dilakukan bila segala prosedur penerjemahan tidak dapat menghasilkan padanan yang diharapkan, seperti kata-kata bahirah, sa’ibah, wasilah dan ham sebagaimana tercantum pada awal tulisan ini yang padanan leksikalnya sama sekali tidak ada dalam bahasa Indonesia (lihat Machail 1996:76). Catatan dapat diberikan baik sebagai catatan kaki, seperti yang dilakukan pada penerjemahan keempat kata tersebut (lihat Al-Qur’an dan Terjemahannya hlm. 179-180), maupun catatan akhir pada setiap akhir bab. Jika mengikuti kaidah EYD, keempat kata tersebut mestinya ditulis dengan huruf miring karena merupakan kata-kata asing. Mujurnya keempat kata tersebut tidak dikenal dalam bahasa Indonesia, tidak sebagaimana kata fitnah yang menjadi faux amis dengan kata fitnah bahasa Indonesia. Karena tidak ditulis dengan huruf miring itu, banyak orang mengira bahwa kata fitnah dalam terjemahan berikut:

والفتنة أشد من القتل

Dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan (QS 2:191)

والفتنة أكبر من القتل

Dan fitnah itu lebih besar (dosanya) daripada pembunuhan (QS 2:217).

Adalah sama dengan fitnah dalam pengertian bahasa Indonesia, yaitu sebagaimana yang tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia,:perkataan bohong atau tanpa dasar kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang (seperti menodai nama baik, merugikan kehormatan orang). Memfitnah berarti menjelekkan nama orang (menodai nama baik, merugikan kehormatan, dsb). Akibatnya, lahirlah ungkapan “Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan”.

Padahal fitnah dalam kedua ayat di atas artinya adalah: Menimbulkan kekacauan, seperti mengusir sahabat dari kampung halamannya, merampas harta mereka dan menyakiti atau mengganggu kebebasan mereka beragama.(Al-Qur’an dan Terjemahnya, catatan kaki nomor 117). Penganiayaan dan segala perbuatan yang dimaksud-kan untuk menindas Islam dan Muslimin (Al-Qur’an dan Terjemahnya, catatan kaki nomor 135).

Penutup

Dengan mengikuti kiat-kiat penerjemahan di atas, harapan saya adalah Anda dapat menghasilkan terjemahan yang baik, yaitu terjemahan yang does not sound like a translation (Nilda dan Taber 1974:12). Semoga.

TEKNIK MENERJEMAHKAN KALIMAT LENGKAP

PDF Print E-mail

Petunjuk Umum

Kalimat lengkap adalah kalimat yang memiliki selain Subjek (S) dan Predikat (P), juga memiliki Objek (O), atau bahkan Keterangan (K). Dengan kata lain, kalimat lengkap adalah kalimat yang berstruktur lengkap.

Seperti pada kalimat sederhana, struktur bahasa Arab sebagai Bsu sebagian besar menganut pola Verba (V) + Nomina (N¹) + Nomina (N²) + Adverbia (Adv) yang masing-masing berperan sebagai P, S, O, dan K. Dalam bahasa Indonesia, hal yang sama tidak terjadi. Struktur bahasa Indonesia sebagai Bsa menggunakan pola S + P + O + K, yang mendahulukan N¹ daripada V, lalu dilanjutkan dengan N², atau bahkan Adverbia.

Petunjuk Khusus

Penerjemahan jumlah fi‘liyah harus mengikuti pola yang sesuai dengan bahasa Indonesia sebagai Bsa. Dengan kata lain, urutan penempatan kata dalam kalimat terkait disesuaikan dengan struktur yang lazim dipergunakan dalam Bsa.

Contoh

قد حدد الإسلام التعدد بالزواج

5 4 3 2 1

Islam telah membatasi praktik poligami

3 1 2 4

سينصرنا الله

4 3 2 1

Allah akan menolong kita

4 1 2 3

Bisa juga diterjemahkan:

Kita akan ditolong Allah

3 1 2 4

يبدأ التاريخ الأوروبي بالحضارة الإغريقية

6 5 4 3 2 1

Dari peradaban Yunanilah, sejarah Eropa dimulai

4 5 6 7 2 3 1

Latihan

A. Terjemahkan jumlah fi‘liyah di bawah ini dengan terjemahan yang paling tepat. Pergunakan kamus untuk mengerjakan soal di bawah ini.

1- فهم التلاميذ الدرس 11- حث هذا الدين البر

2- خلق الله الأرض 12- أمرنا الأستاذ

3- وأنجى الولد 13- أنكحت أختي

4- أطفأ الموظف النور 14- رحمت الأم ابنها

5- طلقت زوجتي 15- وزع الأب تركته

6- وأرسل الملك السرية 16- أعدت الفتاة مادة الدرس

7- وأسكنت البنت أمها 17- أغلق السالك الحجاب

8- أسقط السارق نهبه 18- قرر الرئيس القانون

9- عدل المهندس جاره 19- ألقى الخطيب خطبته

10- ألفت الكتب 20- جمع التاجر ماله

FUNGSI BAHASA

Dalam bab pendahuluan telah dikemukakan bahwa fungsi bahasa
secara umum adalah alat komunikasi. Jika menelaah fungsi bahasa sebagai
alat komunikasi tentu tidak bisa dilepaskan dari individu atau perorangan
yang berkomunikasi dalam masyarakat suatu kebudayaan, dan pendidikan.
Hal ini terjadi karena individu adalah anggota masyarakat, yang hidup dalam
kebudayaan tertentu, dan pola-pola kebudayaan tertentu tersebut dikuasai
melalui pendidikan. Berikut ini dikemukan empat fungsi bahasa, yaitu fungsi
perorang, kemasyarakat, kebudayaan, dan pendidikan.
A. Fungsi Perorangan
Fungsi perorangan ini diuraikan berdasarkan kajian Halliday (1976).
Klasifikasi fungsi bahasa perorangan ini didasarkan pada observasi terusmenerus
terhadap penggunaan bahasa oleh anaknya sendiri. Klasifikasi
fungsi perorangan bahasa anak ada enam dan setelah lebih dari tiga tahun
bertambah satu lagi. Berikut ketujuh fungsi bahasa perorang diurutkan sesuai
dengan tahap penguasaannya.
1. Fungsi instrumental: terdapat dalam ungkapan bahasa anak untuk
meminta sesuatu.
2. Fungsi menyuruh (regulatory): ungkapan bahasa anak untuk
menyuruh orang lain untuk berbuat sesuatu.
3. Fungsi interaksi: terdapat dalam ungkapan anak untuk menciptakan
hubungan antarpribadi.
4. Fungsi kepribadian (personal): terdapat dalam ungkapan untuk
menyatakan atau mengakhiri partisipasi.
5. Fungsi pemecahan masalah (heuristic): terdapat pada ungkapan yang
meminta atau menjawab suatu permasalahan atau persoalan.
6. Fungsi khayalan (imaginative): ungkapan permainan pura-pura atau
simulasi suatu keadaan.
7. Fungsi informasi: fungsi yang berhubungan dengan memberi
informasi kepada orang lain, yang biasanya dikembangkan di sekolah.
B. Fungsi Kemasyarakatan
Fungsi kemasyarakatan bahasa menunjukkan peranan khusus suatu
bahasa dalam kehidupan bermasyarakatan. Klasifikasi bahasa berdasarkan
fungsi kemasyarakatan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu berdasarkan
ruang lingkup dan bidang pemakaiannya.
1. Ruang Lingkup
Bersarakan ruang lingkupnya fungsi kemasyarakatan bahasa meliputi
(a) bahasa ibu (lingkup keluarga, dipakai ibu dalam mengajarkan bahasa
pertama kepada anaknya), (b) bahasa daerah (lingkup suku bangsa/etnis),
(c) bahasa nasional (lingkup negara), (d) bahasa komunikasi lebih luas
(language of wider communication) (lingkup antarbangsa dan antarnegara,
seperti bahasa Spanyol dipakai di Spanyol dan Amerika Latin, bahasa
Melayu dipakai di Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunai Darusalam, bahasa
Arab dipakai di Arab Saudi, Kuwait, Uni Eimat Arab, Iran, Irak), (e) bahasa
internasional (lingkup internasional), dan (f) bahasa kerja PBB (lingkup
anggota PBB, yaitu bahasa Inggris, Perancis, Rusia, Mandarin, kemudian
bertambah Spanyol dan Arab).
2. Bidang Pemakaian
Yang tergolong bidang pemakaian bahasa adalah bahasa resmi (bidang
pemakaian pada acara-acara resmi), bahasa kenegaraan (bidang pemakaian
yang bersifat kenegaraan), bahasa pendidikan, bahasa agama, bahasa
perdagangan, bahasa politik, dan lain-lain.
C. Fungsi Kebudayaan
Fungsi bahasa dalam kebudayaan adalah (1) sarana perkembangan
kebudayaan, (2) jalur penerus kebudayaan, dan (3) inventaris ciri-ciri
kebudayaan. Bahasa merupakan bagian dari kebudayaan dan bahasalah yang
memungkinkan pengembangan kebudayaan (secara filogenetik). Dalam
hubungannya dengan perorangan, anggota kebudayaan, (secara
ontogenetik=terjadinya kebudayaan), seseorang belajar dan mengetahui
kebudayaan kebanyakan melalui bahasa, artinya seseorang belajar hidup
dalam suatu kebudayaan melalui danb dengan bantuan bahasa. Suatu
kebudayaan dilahirkan dalam perorangan kebanyakan dengan bantuan
bahasa.
Sesuatu yang ada dalam kebudayaan mempunyai nama dalam bahasa
kebudayaan dan inilah yang dimaksud dengan bahasa sebagai inventaris ciriciri
kebudayaan. Suatu kata, ungkapan, atau konsep yang ada dalam suatu
kebudayaan belum tentu mempunyai padanan yang tepat atau sesuai dalam
bahasa lainnya. Hal ini menyebabkan kesulitan pengalihbahasaan. Seperti
belimbing (Indonesia) tidak dikenal dalam budaya Inggris, sehingga dinamai
seperti bentuknya dengan starfruit ‘buah bintang’, bamboo ‘bambu’, manggo
‘mangga’, dan lain-lain. Apabila tidak terdapat kata, ungkapan, atau konsep
tertentu dalam suatu kebudayaan, terutama dalam bidang ilmu pengetahuan
dilakukan proses pungutan, misalnya radio, televisi, komputer, mobil, sopir,
seledri, buku, lampu, khotbah, dan saudagar.
D. Fungsi Pendidikan
Fungsi pendidikan bahasa lebih banyak didasarkan pada tujuan
penggunaan bahasa dalam pendidikan dan pengajaran. Fungsi pendidikan
bahasa dibagi menjadi empat, yaitu fungsi integratif, instrumental, kultural,
dan penalaran.
1. Fungsi Integratif
Fungsi ini memberi penekanan pada penggunaan bahasa sebagai alat
yang membuat anak didik ingin dan sanggup menjadi anggota suatu
kebudayaan aatau masyarakat. Bahasa daerah biasanya diajarkan agar anak
didik terintegrasi menjadi anggota kebudayaan daerah tersebut.
2. Fungsi Instrumental
Penggunaan bahasa untuk fungsi instrumental ini berhubungan dengan
tujuan mendapatkan keuntungan material, memperoleh pekerjaan, merail
ilmu, dan sejenisnya. Fungsi ini biasanya tampak nyata dalam penguasaan
bahas asing.
3. Fungsi Kultural
Fungsi ini berhubungan dengan penggunaan bahasa sebagai jalur
mengenal dan menghargai suatu sistem nilai dan cara hidup atau kebudayaan
suatu masyarakat. Bahasa daerah dengan bahan ajar yang menekankan fungsi
ini dapat digunakan untuk pemertahanan suatu budaya. Selain itu pengajaran
bahasa nasional dapat juga sebagai sarana pengenalan dan pemantapan
kebudayaan nasional suatu negara. Penghargaan atas suatu kebudayaan
nasional dapat dipakai sebagai saringan atau filter terhadap pengaruh negatif
kebudayaan asing.
4. Fungsi Penalaran
Fungsi penalaran ini lebih banyak memberi tekanan pada penggunaan
bahasa sebagai alat berpikir, mengerti, dan menciptakan konsep-konsep.
Bahasa digunakan untuk bernalar. Pelajaran teoretik suatu ilmu, penerapan
ilmu secara praktis, penciptaan konsep-konsep baru, dan perumusan gagasangagasan
dilakukan dengan bahasa penalaran. Pengajaran bahasa dapat
dilakukan dengan latihan bernalar, seperti berpikir logis, analitis, dan
sintesis, serta evaluatif.

Urgensi Bahasa Arab

[2591 Reads] Send this story to someone Printer-friendly page

�Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa al-Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya� (QS. Yusuf : 2)

�Cintailah bahasa Arab karena tiga hal, yaitu bahwa aku adalah orang Arab, bahwa al-Quran adalah bahasa Arab, dan bahasa penghuni syurga di dalam syurga adalah bahasa Arab� (HR. at-Thabrani)

�Bersemangatlah dalam mempelajari bahasa Arab, karena sesungguhnya bahasa Arab adalah sebagian dari agamamu� (Umar Ibnul Khattab)

�Berbicaralah dengan menggunakan bahasa Arab karena hal ini merupakan bagian dari syi�ar Islam� (Asy Syahid Imam Hasan Al Banna)

Hudzaifah.org – Bahasa Arab adalah bahasa kesatuan kaum muslimin sedunia, bahasa yang digunakan untuk komunikasi Allah SWT dengan hamba-Nya (Rasulullah SAW) berupa al-Quran. Bahasa yang telah dipilih oleh Allah SWT ini adalah bahasa yang paling kaya dan sempurna di antara bahasa-bahasa yang ada di bumi ini. Suatu bahasa yang tetap akan terjaga asholah-nya (keaslian) sampai hari qiyamat, tak akan terkontaminasi oleh lajunya peradaban dunia. Tidak seperti bahasa lain yang mudah tercemar seiring dengan globalisasi dan majunya peradaban.

Belajar bahasa Arab memang sebuah keharusan yang layak dikuasai oleh umat Islam. Sebab sejak awal mula diturunkan ajaran Islam sampai hari ini, bahasa yang digunakan adalah bahasa Arab. Seseorang tak akan mampu memahami Islam dengan benar tanpa melalui kidah bahasa Arab. Menafsirkan al-Qur�an wajib menggunakan kaidah bahasa Arab, bukan dengan kaidah/tata bahasa-bahasa selainnya. Seorang muslim tak akan mungkin (mustahil) berpisah dari bahasa Arab. Untuk itu kita mempunyai kewajiban untuk terus berusaha medalami dan mensyi�arkannya dalam kehidupan sehari hari. Asy Syahid Hasan Al Banna telah mewasiatkan: �takallamul lughatal �arabiyatal fushkha fainnaha min sya�airil islam� (Berbicaralah dengan menggunakan bahasa Arab karena hal ini merupakan bagian dari syi�ar Islam). Shahabat Umar bin Khattab RA. pernah mengatakan: �ta�allamul lughatal �arabiyah fainnaha min diinikum� (Pelajarilah bahasa Arab karena dia adalah bagian dari dien kalian). Juga hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Al Hafidz Ibnu Asakir dengan sanad dari Malik: �Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Rabb itu satu, bapak itu satu, dan agama itu satu. Bukanlah Arab di kalangan kamu itu sebagai bapak atau ibu. Sesungguhnya, Arab itu adalah lisan (bahasa), maka barangsiapa yang berbicara dengan bahasa Arab, dia adalah orang Arab�.

Al-Quran sebagai kitab suci abadi yang menghapus semua kitab suci yang pernah ada, diturunkan dalam bahasa Arab. Rasulullah SAW sebagai nabi akhir zaman yang risalahnya berlaku untuk seluruh manusia di muka bumi sampai akhir zaman, juga berbahasa Arab, tanpa pernah diriwayatkan mampu berbahasa selain Arab.

Hadits-hadits nabawi diriwayatkan secara berantai hingga sampai kepada kita melewati masa berabad-abad, juga tertulis dalam bahasa Arab. Bahkan semua kitab yang menjelaskan materi Al-Quran, As-Sunnah serta syariah Islamiyah hasil karya para ulama muslim sedunia sepanjang masa, juga kita warisi dalam bahasa Arab.

Ketika dakwah Islam memasuki pusat-pusat peradaban dunia dan membangun kejayaannya nangemilang, bahasa yang digunakan juga bahasa Arab. Kala itu bahasa Arab selain resmi menjadi bahasa pemerintahan, juga menjadi bahasa dunia pendidikan, bahasa ilmu pengetahuan serta bahasa rakyat sehari-hari. Padahal negeri-negeri yang dimasuki Islam itu tadinya bukan negeri Arab.

Kalau kita bandingkan antara jumlah orang awam dan jumlah para ulama, kita akan menemukan perbandingan yang jauh dari proporsional. Dengan kata lain, ulama di masa sekarang ini termasuk `makhluk langka` bahkan nyaris punah.

Tanpa mengurangi rasa hormat dan penghargaan atas jasa mereka selama ini, namun kenyataanya bahwa kebanyakan tokoh agama serta para penceramah yang kita dapati masih minim dari penguasan secara mendetail dalam kisi-kisi ilmu syariah. Tidak sedikit dari mereka yang sama sekali buta bahasa Arab. Dan otomatis rujukan satu-satunya hanya buku terjemahan saja. Bahkan ketika membaca Al-Quran pun tidak paham maknanya. Apalagi membaca hadits-hadits nabawi. Dan jangan ditanya bagaimana mereka bisa merujuk kepada kajian syariah Islam dari para fuqaha sepanjang sejarah, karena nyaris semua literaturnya memang dalam bahasa Arab.

Lalu kita bisa pikirkan sendiri bagaimana kualitas umatnya bila para tokoh agama pun masih dalam taraf yang kurang membahagiakan itu?

Maka memperbanyak jumlah ulama serta menyebar-luaskan ilmu-ilmu syariah menjadi hal yang mutlak dilakukan. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT tentang keharusan adanya sekelompok orang yang berkonsentrasi mendalami ilmu-ilmu syariah.

“Tidak sepatutnya bagi mu’minin itu pergi semuanya. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah: 122)

Karena itu, keinginan anda untuk belajar bahasa Arab dan menguasainya adalah sebuah keinginan yang teramat mulia, sehingga perlu didukung penuh. Jangan sampai keinginan itu berhenti hanya karena alasan teknis semata.

Empat Dimensi Penguasaan Bahasa Arab

Menguasai bahasa Arab itu minimal harus menguasai empat sisi.

1. Fahmul Masmu’

Maksudnya kita harus mampu memahami apa yang kita dengar. Jadi kalau ada orang Arab membacakan berita di TV atau sedang berdialog, kita mampu mengerti.

2. Fahmul Maqru’

Maksudnya kita harus mampu memahami teks yang kita baca. Sehingga buku, kitab, majalah, koran atau teks apapun yang tertulis dalam bahasa Arab, mampu kita pahami.

3. Ta’bir Syafahi

Maksudnya kita mampu menyampaikan isi pikiran kita dalam bahasa Arab secara lisan, dimana orang Arab mampu memahami apa yang kita ucapkan.

4. Ta’bir Tahriri

Maksudnya kita mampu menyampaikan pikiran kita kepada orang Arab dengan bentuk tulisan, dimana orang Arab bisa dengan mudah memahami maksud kita.

Problematika Belajar Bahasa Arab

Sebelum anda menentukan pilihan pada lembaga mana anda akan percayakan program belajar bahasa Arab anda, sebaiknya anda juga belajar dari beberapa pengalaman mereka yang pernah melakukannya sebelumnya. Juga tidak ada salahnya kalau anda juga mendengarkan pengalaman mereka, baik telah sukses maupun yang gagal.

Kenyataannya memang harus diakui bahwa tekad kuat untuk belajar bahasa Arab, terutama buat kalangan muda muslim yang tidak pernah mengecap pendidikan pesantren berbahasa Arab, seringkali kandas di tengah jalan.

Di Jakarta pernah berdiri puluhan ma’had dan lembaga kursus yang mengajarkan bahasa Arab. Sayangnya, kebanyakan keberhasilannya berjalan terseok-seok, kalau tidak mau dikatakan gagal total. Umumya kurang berhasil dalam mengantarkan para siswanya untuk menjadi orang yang mahir bahasa Arab.

Biasanya, alasan paling klasik adalah lamanya masa belajar dan rasa bosan yang dengan cepat menghantui para pelajar. Apalagi ditambah dengan padatnya aktiftitas peserta di luar jam kurus, sehingga biasanya lembaga kursus itu menyelenggarakan pengajaran bahasa dengan cara non-intensif. Kursus diselenggarakan seminggu sekali, atau seminggu dua kali. Sekali pertemuan hanya 2 atau 3 jam saja. Dilihat dari sisi keintensifannya saja, sudah terbayang kegagalannya.

Semua itu kemudian diperparah kualitas pengajar yang umumnya juga orang Indonesia, di mana secara teori mungkin menguasai dasar-dasar gramatika bahasa Arab, tetapi secara dzauq (taste), kemampuan mereka amat terbatas. Banyak sekali para pengajar yang mampu berbicara dalam bahasa Arab, namun dengan ta’bir (cara pengungkapan) yang bukan digunakan oleh orang Arab. Sehingga orang Arab sendiri pun kalau mendengarnya agak berkerut-kerut dahinya sampai 10 lipatan.

Masalah kurikulum pengajaran pun seringkali malah menjadi faktor penghalang besar. Yaitu ketika para peserta dijejali dengan berbagai macam aturan, rumus, kaidah dan tetek bengeknya, tapi kurang praktek langsung. Bisa jadi secara teori mereka sangat paham, tapi giliran harus menggunakan bahasa itu baik secara lisan, tulisan atau pendengaran, semua jadi berantakan alias gagal total. Kasusnya mirip dengan orang yang belajar berenang secara teoritis, menguasai aturan gaya bebas, gaya kupu-kupu, gaya katak dan lainnya. Tapi giliran masuk kolam, tenggelam dan tidak timbul-timbul lagi. Sungguh menyedihkan memang.

Bahasa adalah Aplikasi

Tempat belajar suatu bahasa yang paling baik bukan di dalam sebuah lembaga kursus, juga bukan di dalam sebuah kelas. Tempat belajar yang paling baik adalah di tempat dimana semua orang berbicara dan berkomunikasi dengan bahasa tersebut.

Kalau anda ingin pandai bahasa Jawa, sebaiknya anda tinggal selama beberapa tahun di Jogjakarta atau di Solo. Terutama di pedesaan dimana masyarakat dengan setia menggunakan bahasa Jawa. Di sana anda bukan hanya belajar kosa kata jawa, tetapi juga mendengar, melihat, memperhatikan, menirukan, serta beradaptasi secara langsung dengan cara komunikasi orang jawa. Sebab bahasa itu bukan sekedar kosa kata, tetapi termasuk juga tutur bahasa, cara mengungkapkan, cara melafalkan, bahkan termasuk bahasa tubuh, mimik dan intonasi. Dan semua bermula dari mendengar setiap saat ucapan. Pagi, siang, sore dan malam hari yang anda dengar hanya percakapan orang-orang dalam bahasa Jawa.

Ini adalah cara belajar bahasa yang paling alami, paling mudah dan paling berhasil. Cara ini telah melahirkan jutaan anak-anak berusia 1 tahun hingga 5 tahun yang mahir berbahasa Jawa. Jangan kaget, kalau di Jogja dan Solo, rata-rata anak kecil mahir berbahasa Jawa (?).

Dan jangan kaget juga kalau di Mesir dan negeri Timur Tengah lainnya, anak-anak mahir berbahasa Arab. Kalau anak kecil saja mahir berbahasa Arab, mengapa anda yang sudah dewasa tidak bias bahasa Arab?

Kesimpulannya adalah bahwa belajar bahasa itu membutuhkan sebuah komunitas orang-orang yang berkomunikasi dengan bahasa itu. Dimana kita ada di dalamnya dan ikut berinteraksi secara aktif. Demikianlah kaum muslimin sedunia telah disatukan dan dipersaudarakan dengan satu bahasa, bahasa Arab. Kita akan jaya dengan bahasa Arab.

Mengapa Madrasah Dimarginalisasi

Mengapa Madrasah Dimarginalisasi

Oleh H Akhiruddin, Lc

Konsep Cerdas yang berhasil merehab ratusan fisik gedung sekolah dasar negeri di Kabupaten Deli Serdang, secara jujur penulis akui sangat bermanfaat dalam membangkitkan semangat belajar kepada para peserta didik dan guru yang mengajar dengan tercerahkannya fisik bangunan tempat terjadi proses belajar mengajar. Meski demikian, menurut penulis realisasi konsep Cerdas dalam meningkatkan potret kualitas pendidikan yang berkualitas sesuai amanah pendidikan nasional Indonesia dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) nomor 20 tahun 2003.

Tulisan ini mencoba mengkritisi kebijakan konsep Cerdas Bupati Deli Serdang Drs Amri Tambunan ke arah yang konstruktif (membangun) terkait dengan keadilan perhatian terhadap institusi lembaga pendidikan agama ‘madrasah’ yang terabaikan meski eksistensi lembaga madrasah sangat berperan dan urgensif dalam melahirkan generasi-generasi berakhlak karimah (akhlak mulia) dan ke depan sangat ideal untuk memimpin Deli Serdang ke arah yang lebih baik.

Termarginalkan

Madrasah merupakan lembaga pendidikan agama yang dalam sejarah sangat konsisten melahirkan intelektual intelektual bermoral karena nilai-nilai keagamaan sangat subur dalam sistem pendidikan yang juga media perjuangan untuk mempertahankan ajaran-ajaran Islam secara fundamental (mendasar). Seharusnya proses pembelajaran dan pendidikan yang dianut sistem madrasah perlu dilestarikan dan dikembangkan dengan memberikan porsi perhatian yang seimbang mengingat peranannya yang sangat krusial. Di Kabupaten Deli Serdang, keberadaan madrasah seakan termarginalkan (tercampakkan) dari kebijakan pemerintah setempat dalam pengembangannya yang tidak tersentuh sedikitpun dari orientasi konsep ‘Cerdas’ yang menurut penulis perlu kembali dicerdaskan agar lebih komperhensif dalam membangun dunia pendidikan khususnya meningkatkan iptek maupun imtaq. Tidak masuknya madrasah dalam konsep ‘Cerdas’ merupakan pengingkaran terhadap UU Sisdiknas nomor 20 tahun 2003 Bab III tentang prinsip penyelenggaraan pendidikan (pasal 4) disebutkan, pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan, serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan , nilai kultural, dan kemajemukan bangsa (ayat 1).

Kemudian pada pasal 11 ayat 1 disebutkan pula, ‘Pemerintah (pusat) dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan bermutu bagi warga negara tanpa diskriminasi. Merujuk kepada ketentuan di atas, seharusnya madrasah juga harus menjadi bagian realisasi konsep ‘Cerdas’ Bupati Deli Serdang Drs Amri Tambunan guna memacu peningkatan potret kualitas dan kuantitas pendidikan khususnya tingkat SD dan Madrasah Ibtidaiyah (MI). Alangkah naifnya bila madrasah, lembaga pendidikan Islam sebagai ‘dapur’ utama menciptakan dan melahirkan generasi berakhlak karimah yang menjadi pondasi kemajuan bangsa tidak mendapatkan perhatian dalam kapasitasnya sebagai lembaga pendidikan yang jelas-jelas memiliki hak untuk diperlakukan sama tanpa diskriminasi (perbedaan) sebagaimana termaktub dalam UU Sisdiknas nomor 20 tahun 2003.

Sangat terasa manis dan fantastis visi Bupati Drs Amri Tambunan dalam memetakan target pembangunan di Deli Serdang sebagai kabupaten ‘ yang maju dan mandiri dengan masyarakatnya yang sejahtera , religius dan bersatu dalam kebhinekaan melalui pemerataan pembangunan, pemanfaatan sumber daya yang adil dan penegakkan hukum yang ditopang oleh tata pemerintahan yang baik’. Visi di atas secara konseptual sangat baik, Namun bila semua hanya sebatas konsep tanpa diringi dengan realisasi konkrit di lapangan, nilainya tetap nol dan tidak berharga. Apalah artinya kita menanam pohon jeruk bila akhirnya tidak berbuah ? Artinya, realisasi sebagai manifestasi dari visi yang menjadi komitmen pembangunan harus ada dan bukan sekedar teori.

Peranan Madrasah

Ada hal yang menarik penggalan dari visi Bupati Deli Serdang di atas yang ingin menjadikan kabupaten ini sebagai daerah yang religius. Dari kacamata Islam, menjadikan daerah yang relegius merupakan kewajiban setiap muslim sehingga setiap desah nafas, tutur kata, langkah dan semua aktifitas seorang muslim kental dengan nuansa religius.

Peranan madrasah untuk menjadikan daerah ini sebagai kabupaten religius sangat jelas. Lembaga pendidikan Islam ini menawarkan konsep pendidikan prinsipil (paling dasar) terhadap pemahaman tentang ajaran Islam yang mewajibkan semua umatnya berakhlak mulia. Dalam sebuah hadis Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa misi pertama dirinya diutus ke dunia yakni memperbaiki dan menyempurnakan akhlak mulia dan wadah interpretasinya (tafsiran) adalah madrasah.

Ketika peranan madrasah dimarginalkan, bisa dipastikan implikasi (dampak) negatifnya akan menjadi ‘wabah’ yang merusak sendi-sendi kehidupan sosial di tengah-tengah masyarakat sebagai konsekuensi tidak kuatnya atau melemahnya peranan madrasah sehingga terjadi dekadensi (keterpurukan) moral bangsa kita karena dipimpin dan dihuni orang-orang yang tidak berakhlak mulia. Karena itu, di dalam pemahaman literatur Islam disebutkan bahwa adab (akhlak yang baik) kedudukannya lebih ketimbang ilmu. Fakta menjawab dengan jelas, karena tidak amanahnya para pemimpin bangsa Indonesia dalam memandu negara ini, kehancuran dan bencana menjadi bagian dari pemandangan mata kita setiap hari bahkan mungkin pernah kita rasakan. Karena itu, sudah saatnya Bupati Deli Serdang Drs Amri Tambunan memberikan porsi perhatiannya terhadap lembaga pendidikan madrasah di daerah yang dipimpinnya untuk menghidupkan kembali peranannya agar bisa menjadi kabupaten religius.

Beberapa paradigma ‘basi’ namun tetap relevan sepanjang masa yang harus menjadi prioritas yakni, memberdayakan masyarakat untuk berpartisipasi membangun secara bersama-sama, memformulasikan sistem pembinaan yang lebih strategis, meningkatkan kesejahteraan para gurunya serta memback up program ini menjadi ‘Gerakan Membangun Madrasah’ lewat dukungan dana APBD Kabupaten Deli Serdang sebagaimana aplikasi konsep Cerdas dan GDSM sekaligus memenuhi tuntutan amanah UU Sisdiknas nomor 20 tahun 2003. Gerakan Membangun Madrasah tidak saja akan meningkatkan kualitas pendidikan agama sebagai pondasi utama khususnya umat Islam di Kabupaten Deli Serdang yang memiliki korelasi penting dengan visi yang diusung, melainkan akan membawa perubahan baru perwajahan pembangunan karena meletakkan asas pembangunannya berakar pada akhlak mulia.

Penulis Sekretris Umum MUI dan anggota DPRD Kabupaten Deli Serdang


Mungkin, berangkat dari sebuah keprihatinan besar dan komitmen untuk membangun potret pendidikan berkualitas di Kabupaten Deli Serdang, Bupati Drs Amri Tambunan dan segenap jajarannya, khususnya Dinas Pendidikan dan Pengajaran (Disdikjar) memformulasikan sebuah konsep yang dinilai banyak pihak sangat spektakuler dan sejauh ini dianggap berhasil dengan konsep ‘Cerdas’ (Percepatan rehabilitasi dan apresiasi sekolah).

Sumber : http://www.waspada.co.id

PERAN BAHASA ARAB SEBAGAI BAHASA INTERNASIONAL

KULIAH UMUM PROF. DR. ALWI SHIHAB

“PERAN BAHASA ARAB SEBAGAI BAHASA INTERNASIONAL

DAN BAHASA DIPLOMASI”

DI AUDITORIUM ARIFIN PANIGORO, UNIVERSITAS AL AZHAR INDONESIA

27 DESEMBER 2007

Ringkasan

Bahasa Arab sesungguhnya merupakan bagian tak terpisahkan dari

kehidupan umat Islam. Oleh karena itu, mempelajari dan menguasai bahasa

menjadi keperluan setiap muslim. Baginya, bahasa Arab perlu untuk membentuk

pribadi sebagai muslim dan meningkatkan kualitas keimanan dan pemahaman

terhadap ajaran agama, bahkan perlu sebagai sarana dakwah penyebaran agama

Islam. Bahasa Arab perlu dipandang sebagai “bahasa agama” dan bukan sebagai

bahasa budaya, etnis, kawasan, maupun negara tertentu saja. Itu ditandai dengan

banyaknya tokoh dan ulama muslim yang berasal dari bukan kawasan Arab, semisal

Al-Gazali, Al-Biruni, Ibnu Sina, Al-Razi, Al-Kindi, dsb., namun menguasai bahasa

Arab sebagai bagian dari studi Islam yang mereka tekuni. Selain itu, agama Islam,

yang salah satu unsurnya adalah bahasa Arab, seyogyanya men-jadi budaya yang

dominan mewarnai kehidupan umat Islam di tingkat pribadi, keluarga, dan

masyarakat.

Berseberangan dengan hal tersebut, harus diakui bahwa ada upaya kalangan

kolonial dan sekuler untuk “meminggirkan” dan “menjauhkan” bahasa Arab dan

sejumlah budaya keislaman dari kehidupan umat Islam. Dari segi upaya akademis,

ada salah satu contoh, Al-Munjid, yaitu kamus ekabahasa Arab yang sangat kurang

memasukkan unsur-unsur Arab yang terkait dengan keislaman; kamus itu disusun

oleh akademisi Katolik Libanon, Louis Ma’luf. Selain itu, secara kultural, ada upaya

pula yang ingin diterapkan dan disebarluaskan di kalangan masyarakat Arab, yaitu

pemopuleran penggunaan bahasa Arab kolokial (dialek lokal) dan pengesampingan

penggunaan bahasa Arab standar (fusha). Hal itu berakibat pada minimnya

pengetahuan dan pemahaman masyarakat Arab sendiri terhadap bahasa Arab yang

resmi dan standar. Ada satu keuntungan yang dimiliki bahasa Arab standar, yaitu

pemertahanannya yang langsung melibatkan “peran” Allah melalui turunnya Alquran

sebagai wahyu Allah yang berbahasa Arab (lihat QS. 15 [Al-Hijr] ayat 9).

Secara politis-internasional, bahasa Arab kini sudah diakui sebagai bahasa

inter-nasional dan digunakan juga sebagai salah satu bahasa diplomasi resmi di

forum Perserikatan Bangsa-bangsa. Beberapa negara non-Arab di dunia, seperti

Malaysia, bahkan sudah “mengakui” bahasa Arab di negaranya dan memberikan

apresiasi berupa adanya tulisan-tulisan berbahasa Arab di tempat-tempat umum.

Dalam hal perkembangan situasi ekonomi global, bahasa Arab mengambil tempat

dan peran yang sangat penting. Itu ditunjukkan dengan semakin pentingnya

kawasan Timur Tengah, yang notabene mayoritas masyarakatnya berbahasa Arab,

sebagai pusat sumber daya energi dan mineral dunia. Berbagai kalangan di dunia

yang berkepentingan dan ingin membuka jalur komunikasi dengan negara-negara

Timur Tengah, harus berpikir dan mengambil sikap bahwa mereka sangat

membutuhkan penguasaan bahasa Arab, sebagai “pintu masuk” komunikasi

antarbudaya yang kemudian membuka jalan bagi hubungan ekonomi, politik, dan

sebagainya; sebagai contoh, Duta Besar Jerman dan Duta Besar Belanda yang

sekarang bertugas di Indonesia ternyata mampu berbicara dalam bahasa Arab

dengan lancar sekali. Sebagai kawasan bisnis baru yang sangat terbuka dan

“menjanjikan” peluang serta prospek yang cerak, Timur Tengah adalah “primadona”

baru yang sedang merebut perhatian banyak kalangan di dunia. Itu ditandai pula

dengan semakin banyaknya lembaga dan perusahaan dari luar Arab yang

berdatangan dan membuka kantor di negara-negara Timur Tengah. Mereka yang

berdatangan itu menyadari bahwa bahasa Arab, selain bahasa Inggris, adalah

syarat utama komunikasi dan diplomasi sekaligus pendekatan dengan masyarakat

dan negara-negara Timur Tengah.

Tidak hanya proses masuknya investasi asing ke Timur Tengah yang

memerlukan bahasa Arab. Berbagai negara, dalam hal ini termasuk Indonesia, yang

menyadari pentingnya kawasan Timur Tengah sebagai mitra, menyadari bahwa

banyak pula harapan akan masuknya investasi negara-negara Arab ke negara

mereka. Di Indonesia bahkan sudah ada beberapa perwakilan perusahaan dan

lembaga keuangan asing yang membuka kantor di Indonesia. Itu memang tak

terlepas dari peran aktif dan keseriusan pemerintah RI untuk mengundang investor

asal Timur Tengah datang ke Indonesia. Dalam hal ini, proses komunikasi,

diplomasi, dan negosiasi bilateral tentulah membutuh-kan bahasa Arab sebagai

medianya yang paling utama. Sayangnya, harus diakui bahwa tenaga-tenaga ahli

yang menguasai bahasa Arab, seperti diplomat dsb., masih sedikit jumlahnya.

Padahal, kebutuhan akan hal itu kini begitu tinggi. Hal itu sekaligus menjadi peluang

dan tantangan bagi masyarakat Indonesia untuk melihat situasi yang sudah

berubah—hubungan Indonesia dengan kawasan Timur Tengah yang semakin

intensif dan semakin terbukanya peluang kerja—dan berpikir ulang bahwa bahasa

Arab kini bukan bahasa “kelas tiga”, tapi sudah menjadi bahasa yang penting dan

mutlak perlu dipelajari.

Perubahan situasi tersebut jelas menguntungkan masyarakat dan bangsa

Indo-nesia. Namun, keuntungan itu hanya akan dinikmati jika proses komunikasi

antarbudaya dan antarnegara yang berlangsung dijembatani oleh pemahaman

bahasa dan budaya yang baik. Jika bangsa dan masyarakat Indonesia tidak

memahami bahasa dan budaya Arab dengan baik, maka semua rencana besar

menyangkut politik, ekonomi, dsb. antarnegara akan sulit terwujud—suatu hal yang

patut menjadi keprihatinan nasional. Negara ini akan tetap mengalami kerugian

besar hanya karena tidak bisa berkomunikasi dan mendekati secara kultural orangorang

Arab yang sesungguhnya kini mulai tertarik dan bahkan berlomba untuk

masuk menanamkan modalnya di Indonesia, meski negara ini dengan tegas

menyatakan kepada Timur Tengah bahwa pemerintah membuka pintu seluasluasnya

dan memberikan banyak fasilitas khusus kepada mereka.

Mengingat peluang yang kini terbuka dan semakin pentingnya bahasa Arab

dalam kaitannya dengan peluang tersebut, perlulah kiranya Universitas Al Azhar

Indonesia (UAI) menyadari situasi itu dan berinisiatif menjadi perguruan tinggi

pelopor yang mewajibkan mahasiswa dan para lulusannya menguasai bahasa

asing, yaitu bahasa Inggris dan salah satu dari bahasa asing lainnya seperti bahasa

Arab. Jika hal itu terwujud, maka UAI akan memiliki trademark dan citra yang

semakin positif di mata masyarakat Indonesia khususnya dan masyarakat

internasional umumnya. Dengan membekali mahasiswa dan lulusannya dengan

kemampuan bahasa asing yang memadai, UAI diharapkan mampu mengisi

“kekosongan” dan berperan penting dalam pembentukan sumber daya manusia

yang mampu bekerja di sektor-sektor yang strategis seperti diplomasi/hubungan

internasional, ekonomi, dan sosial-budaya.

Kuliah umum ini diharapkan dapat memberikan wawasan dan membuka

cakrawala berpikir masyarakat kampus UAI untuk semakin termotivasi mempelajari

bahasa Arab, tidak sebagai bahasa agama Islam, tetapi juga sebagai bahasa

internasional yang semakin penting keberadaannya untuk dikuasai sebagai

keterampilan penunjang dan “nilai tambah”.

Uraian dan Jawaban Narasumber pada Sesi Tanya-Jawab

Penguasaan bahasa Arab/bahasa asing lainnya.

Bahasa Arab (dan bahasa asing lainnya) jika ingin dikuasai sebaiknya perlu

dipelajari sejak kecil, dengan metodologi yang menarik, meski dipelajari pada

usia dewasa, seperti pada saat akan memulai karier diplomatik (contoh kasus:

Dubes Jerman dan Belanda di Indonesia mampu berbahasa Arab!) pun tetap

mungkin. Yang terpenting dari pembelajaran bahasa adalah motivasi, tujuan, dan

prosesnya. Penguasaan bahasa asing dalam berkomunikasi dengan mitra asing

adalah modal penting meraih simpatinya dan memudahkan proses pencapaian

tujuan kerja sama dengan mereka. Tanpa itu, bekerja sama dengan orang asing

akan sulit dilakukan.

Diplomasi dengan masyarakat Timur Tengah.

Masih dirasa ada kesulitan dalam memberikan pemahaman dan meyakinkan

masyarakat Timur Tengah bahwa situasi Indonesia sudah berubah dan lebih

baik serta lebih menjanjikan untuk prospek kerja sama

antarnegara/antarkawasan. Itu tak terlepas dari pengalaman dan kesan masa

lalu orang Arab tentang watak dan budaya orang Indonesia menyangkut kerja

sama yang pernah dilakukan. Selain itu, masih banyak tersebar ke dunia

internasional berita-berita dari Indonesia yang menggambar-kan situasi

demontrasi masyarakat, tindakan kekerasan semisal bom bunuh diri,

pelanggaran HAM dan demokrasi, dan itu membuat para investor Timur Tengah

merasa tidak aman dan mengalihkan modalnya ditanamkan di negara lain

seperti Malaysia dsb.

Pengembangan bahasa Arab sebagai bahasa internasional.

Organisasi Konferensi Islam (OKI) berupaya melakukan kerja sama secara luas

dalam memasyarakatkan dan mendekatkan bahasa Arab dengan masyarakat

internasional, terutama dengan negara-negara anggota OKI. Indonesia sedang

menjajaki kerja sama pengembangan pengajaran bahasa Arab dengan institusi

The Arab Academy di Mesir untuk mewujudkan rencana itu.

Peluang kerja berbasis kemampuan berbahasa Arab.

Di Indonesia sudah mulai berdatangan berbagai institusi dan perusahaan Timur

Tengah yang membuka cabang dan berinvestasi. Di Lombok, contohnya, sedang

di-garap secara khusus proyek pariwisata yang didanai oleh perusahaan dari

Qatar. Hal itu dengan sendirinya akan membuka kesempatan kerja bagi tenaga

ahli yang menguasai bahasa Arab. Dengan begitu, diharapkan para

pelajar/mahasiswa yang belajar bahasa Arab optimis dengan masa depan

mereka.

Peran pemerintah RI dalam pengembangan pengajaran bahasa Arab (dan

bahasa asing lainnya).

Pemerintah RI kini berkomitmen mendorong pengembangan pengajaran dan

pem-belajaran bahasa asing di lembaga pendidikan yang ada. Itu antara lain

ditunjukkan dengan diizinkannya masyarakat Indonesia untuk belajar di sekolahsekolah

asing yang ada di Indonesia. Pemerintah juga mendorong agar para

pelajar/mahasiswa memiliki kemampuan berbahasa asing yang memadai,

seperti dengan cara men-syaratkan standar kemampuan tertentu bagi lulusan

sekolah yang akan memasuki dunia kerja. Bahasa Inggris tetaplah menjadi

prioritas utama untuk diajarkan di sekolah-sekolah formal. Adapun

pengembangan bahasa Arab, hal itu diprioritaskan untuk dilakukan di lembagalembaga

pendidikan Islam, seperti madrasah, UIN, dsb. Itu karena bahasa Arab

masih sulit dikembangkan di lembaga-lembaga pendidikan non-formal karena

faktor sosial-budaya masyarakat Indonesia yang masih memandang “sebelah

mata” terhadap bahasa Arab.

Iklan