Penjelasan Bulughul Maram – Bab Haid

Penjelasan Bulughul Maram
Disarikan dari Daurah oleh Ummu Abdillah Al-Wadi’iyyah

Bab Haid

الحيض (Al-Haid) secara linguistic berarti mengalir. Ini dikatakan untuk lembah ‘haadal waadi’ jika ia mengalir. Dalam syari’ah, berarti darah yang keluar dari rahim. Haid memiliki nama-nama lain, sebagai berikut:

1. نفاس sebagaimana sabda Nabi صلى الله عليه وسلم kepada Aisyah رضي الله عنها : “anafisti?”
2. Demikian juga disebut الضحك (tersenyum) sebagaimana sebagian ulama menggunakan ayat berikut sebagai dalil:
Allah berfirman:

وَامْرَأَتُهُ قَائِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَاهَا

“Dan istrinya berdiri (di balik tirai) lalu dia tersenyum.” (QS Huud [11] : 71)

Namun demikian, karena tidak ada yang menghalangi untuk tetap pada pengertian ayat ini, maka yang terbaik adalah tetap berpegang pada pengertian ini.

3. الطمف

4. الإكبر

5. القراك

6. اعسار

Darah yang keluar dari uterus (rahim) wanita ada tiga jenis:
1. Darah haid
2. Darah nifas
3. Darah istihadah

Darah isithadah keluar dari pembuluh darah yang disebut العذل

Haid adalah sesuatu yang biasa dialami seluruh anak perempuan Nabi Adam sebagaimana Nabi صلى الله عليه وسلم berkata kepada Aisyah رضي الله عنها ketika ia mengalami menstruasi pada saat berhaji.

Aisyah رضي الله عنها berkata: “Kami mendahului Rasulullah صلى الله عليه وسلم tanpa maksud lain kecuali melaksanakan haji. Ketika saya berada di Sarif atau dekat Sarif, saya mengalami menstruasi. Rasulullah صلى الله عليه وسلم datang kepadaku ketika sedang menangis, kemudian beliau bertanya: “Apakah kamu haid?” Saya menjawab: “Ya.” Kemudian beliau berkata: “Haid adalah sesuatu yang Allah takdirkan terhadap anak-cucu perempuan Adam. (Shahih Muslim, Kitab: Haji, no. 1211).

Untuk lafazh “Haid pertama kali diberikan kepada anak-anak perempuan Israel” tidak benar.

Haid adalah tanda pubertas seorang wanita. Demikian pula tumbuhnya rambut di sekitar kemaluan adalah tanda kedewasaan bagi wanita dan laki-laki. Contohnya adalah pada kisah Atiyyah. Diriwayatkan bahwa Abdul Malik telah berkata, “Saya mendengar Atiyyah Al-Quradhi berkata: Kami hadir dihadapan Rasulullah صلى الله عليه وسلم pada hari Quraidhah (ketika seluruh Bani Quraidhah dibunuh). Mereka yang telah memiliki rambut di kemaluannya dibunuh, dan yang belum memiliki rambut di kemaluannya dilepaskan. Saya adalah salah seorang diantara yang belum memasuki masa pubertas, maka saya pun dilepaskan.” (Sunan Ibnu Majah, Orang yang Tidak Wajib Dikenai Hukuman, Hadist no. 2541).

Kita menarik pelajaran dari hadits ini bahwa diperbolehkan memperlihatkan kemaluan ketika dibutuhkan.

Demikian juga, mengalami mimpi basah adalah salah satu diantara tanda-tanda kedewasaan.

Hadits no. 149

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا { أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ أَبِي حُبَيْشٍ كَانَتْ تُسْتَحَاضُ ، فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إنَّ دَمَ الْحَيْضِ دَمٌ أَسْوَدُ يُعْرَفُ ، فَإِذَا كَانَ ذَلِكِ فَأَمْسِكِي عَنْ الصَّلَاةِ ، فَإِذَا كَانَ الْآخَرُ فَتَوَضَّئِي وَصَلِّي }

رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَالنَّسَائِيُّ ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ ، وَاسْتَنْكَرَهُ أَبُو حَاتِمٍ

Dari ‘Aisyah رضي الله عنها bahwa Fatimah binti Abu Hubaisy sedang keluar darah penyakit (istihadlah). Maka bersabdalah Rasulullah صلى الله عليه وسلم kepadanya: “Sesungguhnya darah haid adalah darah hitam yang telah dikenal. Jika memang darah itu yang keluar maka berhentilah dari shalat, namun jika darah yang lain berwudlulah dan shalatlah.” (Riwayat Abu Dawud dan Nasa’i. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban dan Hakim. Abu Hatim mengingkari hadits ini)

الإستحاضة adalah darah yang keluar dari rahim wanita (secara tidak normal) selain dari waktu kebiasaannya. Darah istihada cair dan berwarna merah. Nabi صلى الله عليه وسلم berkata bahwa darah haid adalah darah hitam yang dikenali dengan baunya.

Abi Hatim menyatakan hadits ini munkar. Sumber hadits ini adalah dari Ash-Shahihain dari hadits Aisyah رضي الله عنها bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Jika memang darah itu yang keluar maka berhentilah dari shalat, namun jika darah yang lain berwudlulah dan shalatlah.” (Shahih Bukhari, Kitab Haid, Hadits no. 229)

Hadits ini mengajarkan kepada kita seorang wanita yang mengalami istihadah dan dapat membedakan dengan haidnya, maka dia menentukan hari-hari haidnya. Kemudian wanita yang dapat mengetahui periode menstruasinya, maka dia berpengang kepadanya dan menganggapnya sebagai hari-hari haid. Manakala tanda-tanda haid telah hilang, dia mandi dan memutuskan bahwa dirinya telah bersih (thahir).

Jenis pendarahan yang kedua adalah wanita yang tidak berhenti mengalami istihadah dan dia mengetahui periode menstruasinya. Dalam kasus ini, dia menentukan hari-hari yang dikenali sebagai hari haid dan hari-hari lainnya adalah istihadah.

Jenis pendarahan yang ketiga adalah wanita yang tidak memiliki periode menstruasi yang teratur, dan juga dia tidak dapat mengenali masa haidnya, maka dia menetapkan 6 – 7 hari setiap bulan sebagai periode menstruasinya sebagaimana yang dialami sebagian besar kaum wanita. Untuk informasi lebih lanjut silahkan merujuk pada buku “Darah Kebiasaan Wanita” oleh Syaikh Utsaimin dan Fiqhus-Sunnah vol. 1 oleh Sayid Sabiq.

Kesimpulannya, seorang wanita yang diuji dengan istihadah terbagi dalam tiga kategori berikut:

1. Wanita yang mengalami menstruasi secara teratur dan mengetahui hari-harinya, dan menentukan hari-hari tersebut sebagai masa haid.
2. Wanita yang dapat membedakan darah menstruasi dengan yang bukan (darah menstruasi), menentukan hari-hari yang dikenali sebagai hari-hari haid.
3. Wanita yang tidak mengalami menstruasi secara teratur dan tidak dapat membedakan darah menstruasi dengan jenis darah lainnya, maka hari-hari haidnya seperti sebagian besar wanita (yakni 6 – 7 hari).

Hadits no. 150

وَفِي حَدِيثِ أَسْمَاءَ بِنْتِ عُمَيْسٍ عِنْدَ أَبِي دَاوُد { وَلْتَجْلِسْ فِي مِرْكَنٍ فَإِذَا رَأَتْ صُفْرَةً فَوْقَ الْمَاءِ فَلْتَغْتَسِلْ لِلظُّهْرِ وَالْعَصْرِ ، غُسْلًا وَاحِدًا ، وَتَغْتَسِلْ لِلْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ غُسْلًا وَاحِدًا .

وَتَغْتَسِلْ لِلْفَجْرِ غُسْلًا وَاحِدًا .

وَتَتَوَضَّأْ فِيمَا بَيْنَ ذَلِكَ }

Dalam hadits Asma binti Umais menurut riwayat Abu Dawud: “Hendaklah dia duduk dalam suatu bejana air. Maka jika dia melihat warna kuning di atas permukaan air hendaknya ia mandi sekali untuk Dhuhur dan Ashar, mandi sekali untuk Maghrib dan Isya’, dan mandi sekali untuk shalat subuh dan berwudlu antara waktu-waktu tersebut.”

Dalam hadits Asma binti Umayyah, kata mirkan ( مركن ) adalah merupakan wadah yang digunakan untuk mencuci pakaian. Hadits ini disebutkan di dalam Ash-Shahih Musnad Mimma Laisa Fis Sahihain jilid 2, halaman 456. Dalam hadits, dianjurkan (mustahab) untuk mandi sekali untuk Dzuhur dan Ashar dan mandi sekali untuk Magrib dan Isya, dan mandi untuk Subuh. Ini adalah Istihbaab dan bukan wajib.

Duduk di atas mirkan adalah cara untuk membantu mereka yang diuji dengan istihadah untuk membedakan antara darah haid dengan jenis darah lainnya. Jika warna air berubah menjadi merah gelap, maka itu adalah darah haid. Namun jika air di dalam mirkan berubah menjadi kekuningan, maka itu adalah darah istihadah.

‘dan diantara waktu itu dia harus berwudhu.” –ini berarti jika dia mandi untuk shalat Dzuhur, maka dia berwudhu untuk shalat Ashar. Jika dia mandi untuk Shalat Magrib, maka dia berwudhu untuk shalat Isya.


***


Sumber : http://www.salafitalk.net

Penomoran hadits-hadits tersebut diatas tidak dicantumkan sebagaimana yang terdapat dalam artikel aslinya, namun disesuaikan dengan nomor urut hadits yang terdapat pada kitab Bulughul Maram

Iklan

bahasa arab

Sesungguhnya Bahasa Arab itu Mudah, Bagi Siapa yang Menginginkannya

إن اللغة العربية الصحلة لمن أرادها

“Sesungguhnya Bahasa Arab itu mudah bagi siapa yang menginginkannya.”


Sebuah ungkapan yang tidak berlebihan. Karena sesuatu itu akan menjadi mudah, jika dalam pikiran kita telah terbentuk sebuah persepsi, keyakinan, bahwa ia adalah mudah jika dilaksanakan dengan sungguh-sungguh.


Jika orang berkata bahwa bahasa adalah jendela ilmu, maka Bahasa Arab seharusnya menempati posisi paling penting dari bahasa asing yang wajib dikuasai. Bukankah Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab yang fasih?


Belajar Bahasa Arab memang tidak semudah mempelajari bahasa lain. Kaidah-kaidah yang beragam dengan perubahan tashrif mulai dari yang beraturan sampai yang tidak beraturan, tentang nahwu dan sharaf, memang menjadi kerikil tajam yang terkadang menjadi batu sandungan yang membuat seseorang menjadi malas untuk memulai lagi, atau bahkan berhenti sama sekali. Terlebih lagi bagi mereka, yang disebabkan oleh beberapa hal, memiliki keterbatasan atau bahkan tidak memiliki akses sama sekali untuk belajar Bahasa Arab dengan seorang guru yang kompeten.


Apa yang saya alami tidak jauh berbeda. Setelah beberapa lama berniat untuk belajar / les privat kepada seorang ustadz yang tidak pernah terwujud karena beberapa kendala, akhirnya memutuskan untuk belajar sendiri, dan mulai mengumpulkan berbagai jenis materi yang menurut perkiraan dapat membantu dalam belajar. Tentu saja belajar tanpa bimbingan dan belajar dengan seorang guru hasilnya jauh berbeda. Yang terjadi kemudian sering kali timbul rasa jenuh, dan rasa malas menjadi hambatan yang luar biasa. Hingga pada satu titik baru teringat akan pengalaman lalu. Bukankah dulu juga belajar bahasa asing lainnya hanya mendapat sekedarnya di sekolah dan sebagian besarnya belajar sendiri? Bukankah dulu juga pernah belajar bahasa Jepang yang dapat dipakai untuk membuat tulisan yang sederhana dalam waktu yang lumayan singkat bagi orang yang belajar sendiri? Iya juga, meskipun bahasa yang terakhir itu akhirnya tinggal tersisa beberapa patah kata karena tidak pernah dipergunakan.


Belajar dari pengalaman lalu akhirnya tekad itu timbul kembali, Jika dulu bisa, maka sekarang pun yakin Insya Allah, pasti bisa.


Artikel ini hanya merupakan bentuk ‘sharing’ pengalaman dalam belajar bahasa secara mandiri, bahasa apapun itu. Mencoba menerapkan kembali metode yang dulu pernah dipakai dan efektif digunakan dalam menguasai Bahasa Inggris, dan sebagian bahasa Jepang yang sekarang terabaikan. Yang akan dipaparkan disini hanya beberapa poin-poin dengan sedikit penjelasan yang relevan berdasarkan pengalaman.


Berikut langkah-langkah dalam mempelajari bahasa asing (bahasa Arab) bagi yang ingin belajar secara mandiri:

  1. Menyadari bahwa bahasa Arab merupakan kunci untuk lebih memahami agama ini (Islam) dengan baik. Bukankah Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab? Menyadari pentingnya kedudukan bahasa Arab ini merupakan motivasi terbesar yang akan memudahkan langkah selanjutnya.
  2. Sebagaimana judul di atas, bentuk persepsi itu di benak anda, bahwa bahasa Arab itu mudah jika kita bersungguh-sungguh untuk belajar. Bukankah Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sampai kaum itu merubah nasibnya sendiri? Salah satu tips jitu adalah menjadikan belajar bahasa Arab sebagai hobi sehingga akan mengurangi sebagian besar beban yang ada.
  3. Mulailah mengumpulkan buku-buku atau materi yang bisa didapatkan melalui toko buku ataupun dalam bentuk online e-book. Dengan beberapa bahan yang berbeda, kita dapat membandingkan antara satu buku dengan buku yang lain, sehingga dapat saling melengkapi.
  4. Tetapkan satu buku yang akan dijadikan panduan selama belajar, sedangkan buku-buku lainnya merupakan penunjang untuk pengayaan materi.
  5. Setiap kali melalui satu materi pelajaran, usahakan untuk membuat contoh-contoh kalimat dengan kata-kata sendiri. Hal ini akan sangat membantu dalam memahami kaidah-kaidah yang sudah dipelajari, berikut penggunaan kata-kata baru, hingga lebih mudah untuk diingat. Mulailah dari kalimat-kalimat yang paling sederhana dan terus meningkat.
  6. Pada tahap selanjutnya setelah beberapa kaidah tata bahasa dikuasai, anda bisa memulai membuat contoh kalimat yang lebih rumit, kalimat-kalimat yang anda sukai atau sesuatu yang ingin anda ungkapkan kepada sahabat, saudara atau lainnya.
  7. Jika anda tidak menemukan seorang guru, sangat dianjurkan bagi anda untuk mencari teman yang bisa berbahasa Arab. Dia mungkin tidak dapat membantu anda secara terus-menerus, namun pada tahap ke 5 dan ke 6 di atas akan sangat membantu untuk memeriksa latihan-latihan anda, membenarkan jika salah dan menjelaskan kaidah-kaidah yang sukar dipahami.
  8. Setiap kali membaca Al-Qur’an ataupun hadits, cobalah untuk memeriksa kalimatnya dan kemudian memilah-milah susunan kata berdasarkan kaidah yang sudah dipelajari. Anda akan tersenyum kecil manakala menemukan ada beberapa hal yang telah dipelajari digunakan dalam ayat atau hadits tersebut. Itu akan memperbesar minat anda untuk terus belajar, sehingga pemahaman tidak lagi sebatas beberapa kalimat, namun keseluruhannya.
  9. Gunakan berbagai macam fasilitas yang ada untuk belajar. Buku, televisi, audio maupun mendia internet. Bagi anda yang seringkali online di YM misalnya, dapat mulai mengganti memasukkan beberapa kalimat berbahasa Arab kedalam obrolan anda, terutama dengan teman-teman yang pandai berbahasa Arab. Salah satu trick kecil yang saya gunakan adalah mengganti status yang biasa dengan bahasa Arab, sehingga memancing sahabat-sahabat yang sedang online, bahkan yang sedang invisible sekalipun, membantu mengoreksi atau menunjukkan pilihan kata yang lebih baik.
  10. Membaca, menulis mendengarkan. Belajar bahasa Arab tidak saja sekedar agar dapat membaca tetapi benar-benar memahaminya, atau dengan istilah lain, berpikir dengan bahasa tersebut. Hal tersebut akan menghilangkan kekakuan dalam berbahasa, yang menjadikan seseorang benar-benar fasih dalam berbahasa. Yang ini tentu saja tingkat tertinggi, namun bukan sesuatu yang mustahil untuk diraih. Jadi… kenapa ragu untuk mecoba?

Sebagai bahan referensi bagi anda, berikut bahan-bahan yang dapat anda gunakan untuk mulai belajar Bahasa Arab :

  1. Durush Lughah al Arabiyyah 1, 2, 3 yang dapat anda download melalui Fatwa Online (lihat ‘reference link’ pada blog ini).

Buku ini tersusun dengan cara sistematis, memadukan antara nahwu dan sharaf, sangat baik untuk digunakan belajar dari awal, selangkah demi selangkah. Namun demikian buku ini agak sukar digunakan untuk belajar secara mandiri, karena di dalamnya tidak terdapat penjelasan mengenai kaidah-kaidah setiap bab pelajaran. (hanya memuat matan arabnya saja). Oleh karena itu bagi anda yang menggunakannya sebagai panduan belajar, sangat penting untuk mengumpulkan buku-buku lainnya sebagai penunjang.

2 Medinah Arabic. Anda dapat mengunjungi situs www.medinaharabic.om dimana tersedia materi pelajaran secara online yang saat ini terdiri dari 23 bab pelajaran. Untuk dapat membacanya secara off-line, materi on-line tersebut telah dibuat dalam bentuk file CHM yang dapat anda download dari Maktabah Raudhah al-Muhibbin (lihat ‘my other blog’). Ke 23 materi dalam bahasa Inggris tersebut merupakan materi yang sama (atau nyaris sama) dengan Durus Lughah 1. Kelebihannya, untuk setiap bab pelajaran diberikan penjelasan lebih rinci sehingga memudahkan kita untuk memahami kaidah yang dibahas dalam setiap bab.

3 The Essential Arabic, a learner’s practical guide; ditulis oleh Rafi el-Iman Frayan. Buku ini merupakan bagian pertama dari dua bagian yang sedianya diterbitkan (saya belum mendapatkan informasi tentang bagian kedua), berisi kaidah-kaidah tata bahasa Arab. Dijelaskan secara ringkas dan lebih mudah dipahami, dimana di setiap akhir pelajaran terdapat Grammatical Analytic yang memecah kalimat susunan kata, untuk memperjelas penggunaan kaidah yang menjadi topik bahasan pada bab yang bersangkutan. Buku ini ditulis oleh seorang Professor of Arabic di Jamia Millia Islamia, New Delhi, dan bisa anda dapatkan di toko-toko buku atau pembelian secara online.

4 Fundamental of Classical Arabic vol. 1. Setahun yang lalu saya mendownload d-Book tersebut via www.faqirpublication.com namun saat ini tidak tersedia lagi. Insya Allah akan diupload kembali ke Maktabah Raudhah al-Muhibbin. Didalamnya berisi beberapa kaidah tata bahasa yang dapat digunakan sebagai penunjang.

5 Belajar Cepata Tata Bahasa Arab sistem 30 jam, serta Tata Bahasa Arab Sistematis. Keduanya ditulis oleh Akhmad Munawari. Paduan kedua buku yang saling melengkapi ini sangat membantu dalam belajar secara mandiri. Contoh-contoh kalimat yang disajikan sebagian besar diambil dari Al-Qur’an dan hadits sehingga kita menjadi lebih terbiasa dengan gaya bahasa Al-Qur’an dan Hadits tersebut.

6 Bahasa Arab untuk Orang Indonesia. Materi pelajaran ini dapat anda telusuri secara online pada www.arabindo.co.nr (lihat ‘reference link’), atau dapat anda beli langsung kepada pengelola situs tersebut. Materi pelajaran tersebut dapat anda baca secara off-line dengan mendownload pada Maktabah kami dalam bentuk CHM file.

7 Appendix B. A Brief Journey through Arabic Grammar. E-Book ini berisi beberapa kaidah tata bahasa dengan penjelasan yang mudah dipahami. E-book ini insya Allah akan di-upload kembali ke Maktabah.


Dan masih banyak lagi buku-buku pelajaran Bahasa Arab. Disarankan untuk mengumpulkan seperlunya saja, karena terlalu banyak buku juga akan membingungkan.


Tidak ada pesan terakhir kecuali ucapan Selamat Belajar! Semoga Allah memudahkan kita dalam belajar, karena dimaksudkan sebagai sarana untuk lebih memahami agama-Nya yang haq.

Labels:

1 Komentar:

Pada February 16, 2008 11:33 AM, Blogger PT ISY KARIMA berkata…
“* Pustaka Digital Al Kubro ini terilhami dari beberapa software program Pustaka atau Mausu’ah Digital yang kami dapatkan saat kami menunaikan Ibadah haji tahun 2006 yang lalu. Alhamdulillah kami berkesempatan mengkoleksi berbagai macam software tersebut, baik dalam bentuk CD, DVD ataupun eksternal Hardis. Dengan koleksi tersebut sesampainya ditanah air kami coba pelajari dan cermati, dan kesimpulannya, kami sangat berbahagia sekali karena kami telah mendapatkan gudang samudera ilmu yang amat berharga. Impian untuk memiliki perpustakaan lengkap tercapai sudah. Kami sempat mengkalkulasi jumlah kitab yang ada dalam software tersebut mencapai lebih dari 2500 judul yang terdiri lebih dari 20.000 jilid, Jika judul kitab dalam jumlah tersebut kita beli dalam versi cetaknya, kita butuh dana sekurang kurang 1 Milyar Rupiah.

* Berangkat dari yang tersebut diatas kami berkeinginan kuat kiranya software tersebut bisa di nikmati oleh kaum Muslimin Indonesia, akan tetapi yang menjadi kendala adalah factor bahasa yang tidak semua orang bisa bahasa Arab atau mereka yang bisa bahasa Arabpun belum tentu paham bahasa istilah computer dalam bahasa Arab. Akhirnya kendala tersebut bisa kami atasi dengan cara mengolah ulang interface software ke dalam bahasa Indonesia dan kadang kadang dicampur dengan bahasa Inggris karena tidak memungkinkan di Indonesiakan.

* Software program Pustaka ini dirancang dengan mode opensource sehingga sangat memungkinkan untuk dikembangkan pengguna menjadi pustaka pribadi yang dinamis dan variatif. Oleh karena itu dalam pola distribusi kami paketkan dengan training penggunaan yang insya Allah dengan cara tersebut pengguna bisa memanfaatkan software secara optimal dan maksimal.

* Bagi mereka yang sama sekali tidak paham bahasa Arab kami masukkan program instant translator yang sementara bisa dimanfaatkan dengan cara online link via google/translate. Insya Allah pada versi berikutnya akan kami usahakan secara offline dengan software khusus. Mohon doanya.”

DELAPAN JENIS AFIKS

DELAPAN JENIS AFIKS

“Analisis Afiks Bahasa Arab, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris”

Deny Arnos Kwary

Penelitian ini mencoba mendeskripsikan jenis afiks secara komprehensif melalui analisis afiks dalam tiga bahasa, yaitu: bahasa Arab, bahasa Inggris, dan bahasa Indonesia. Data jenis afiks diambil dari beberapa buku linguistik umum dan morfologi. Data ini kemudian dilengkapi dengan analisis kata berafiks yang ada dalam kamus setiap bahasa tersebut. Hasil penelitian menunjukkan pembagian jenis afiks yang lebih lengkap, yaitu delapan jenis afiks. Kedelapan jenis afiks ini adalah: prefiks, sufiks, infiks, konfiks, interfiks, simulfiks, superfiks, dan transfiks. Dari delapan jenis afiks ini, bahasa Indonesia memiliki jumlah afiks terbanyak, yaitu lima jenis afiks. Sedangkan bahasa Inggris dan bahasa Arab masing-masing memiliki empat jenis afiks.

Kata kunci: morfologi, afiks, prefiks, sufiks, infiks, konfiks, interfiks, simulfiks, superfiks, dan transfiks.

I. Pendahuluan

Afiks adalah morfem terikat yang dilekatkan pada morfem dasar atau akar (Fromkin dan Rodman, 1998:519). Pembahasan mengenai afiks dapat ditemukan dalam setiap buku linguistik umum dan morfologi. Namun demikian, pembahasan pada buku-buku tersebut masih bersifat kurang menyeluruh dan berbeda-beda. Hal ini dapat disebabkan oleh terbatasnya jenis afiks dari bahasa yang dianalisis atau belum adanya analisis yang lebih mendalam mengenai afiks.

Analisis afiks dalam artikel ini akan dibatasi pada tiga bahasa, yaitu: bahasa Arab, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. Penulis memilih bahasa Arab karena bahasa ini memiliki afiks yang unik yang disebut transfiks (Bauer 1988: 24). Bahasa Indonesia dipilih karena jumlah afiksnya yang cukup banyak. Sedangkan bahasa Inggris dipilih karena jumlah afiksnya yang dianggap hanya dua (prefiks dan sufiks) serta adanya kerancuan klasifikasi infiks (Katamba, 1994: 44-45). Dalam hal ini, penulis berusaha mencari jenis afiks yang lain dan menjelaskan lebih lengkap mengenai fenomena infiks tersebut.

Dalam menganalisis jenis afiks dari ketiga bahasa ini, penulis menggunakan metode kualitatif. Dalam hal ini, penulis mendeskripsikan jenis-jenis afiks yang ada dalam ketiga bahasa yang diteliti. Dalam mengumpulkan data, pertama-tama penulis mencatat jenis-jenis afiks dan definisinya dari buku linguistik umum dan morfologi. Selanjutnya penulis mencari contoh-contoh kata yang berafiks di setiap kamus besar dari ketiga bahasa ini. Penulis juga berusaha mencari kata yang nampaknya berafiks tetapi jenis afiksnya belum pernah diidentifikasi.

II. Tinjauan Kepustakaan

Para ahli linguistik membagi afiks dalam jenis yang berbeda-beda. Matthews (1997:11) menyebutkan lima jenis afiks, yaitu: prefiks, sufiks, infiks, sirkumfiks, dan superfiks. Secara umum, Katamba (1993:44) menyebutkan tiga jenis afiks, yaitu: prefiks, sufiks, dan infiks. Khusus untuk bahasa Inggris, Katamba (1993:89) mengelompokkan afiks berdasarkan perilaku fonologisnya, yaitu afiks non-netral dan afiks netral. Fromkin dan Rodman (1998:71-73) menyebutkan empat jenis afiks, yaitu: prefiks, sufiks, infiks, dan sirkumfiks. Alwi dll (1988:31) menyebutkan ada empat jenis afiks dalam bahasa Indonesia, yaitu: prefiks, sufiks, infiks, dan konfiks.

Pengelompokan afiks yang cukup menyeluruh disebutkan oleh Kridalaksana dll (1985) dan Bauer (1988). Kridalaksana dll (1985:19-21) menyebutkan enam jenis afiks, yaitu: prefiks, infiks, sufiks, simulfiks, konfiks, dan superfiks. Bauer (1988: 19-29) membedakan tujuh jenis afiks yang terdiri atas enam afiks segmental, yaitu: sufiks, prefiks, sirkumfiks, infiks, interfiks, dan transfiks; dan satu afiks suprasegmental, yang diistilahkan superfiks atau simulfiks.

Penulis mengumpulkan contoh-contoh kata berafiks dari dua kelompok sumber. Pertama dari buku-buku morfologi dan linguistik umum. Kedua dari kamus umum setiap bahasa tersebut. Untuk bahasa Arab penulis menggunakan kamus Al-‘Ashri (Ali dan Muhdar, 1996), untuk bahasa Indonesia digunakan Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi ketiga (Alwi ed, 2001), dan untuk bahasa Inggris digunakan kamus Webster’s New World College Dictionary Fourth Edition (Agnes ed, 2001). Ketiga kamus ini dipilih karena isinya yang memuat jumlah lema yang cukup banyak dan penggunaannya yang dianggap cukup meluas. Khusus kamus bahasa Inggris di atas, penulis memilihnya karena dalam kamus tersebut ada informasi proses pembentukan kata dari lema tertentu.

III. Analisis Data

Dari tiga bahasa yang dianalisis di sini, penulis menemukan sembilan jenis afiks, yaitu: prefiks, infiks, sufiks, sirkumfiks (konfiks), trifiks, interfiks, simulfiks, superfiks, dan transfiks. Penjelasan dan contoh setiap afiks dari ketiga bahasa ini adalah sebagai berikut:

1. Prefiks

Prefiks disebut juga awalan. Prefiks adalah afiks yang ditempatkan di bagian muka suatu kata dasar (Alwi dll, 1998: 31). Istilah ini berasal dari bahasa Latin praefixus yang berarti melekat (fixus, figere) sebelum sesuatu (prae). Ketiga bahasa yang dianalisis di sini semuanya memiliki prefiks.

Contoh:

Bahasa Arab: s-g-l ‘sibuk’ + a- à asyghal ‘menyibukkan.’

Bahasa Inggris: tangible ‘kasat mata’ + in- à intangible ‘tidak kasat mata’

Bahasa Indonesia: ajar + meng- à mengajar

2. Sufiks

Sufiks atau akhiran adalah afiks yang digunakan di bagian belakang kata (Alwi dll, 1998:31). Istilah ini juga berasal dari bahasa Latin suffixus yang berarti melekat (fixus, figere) di bawah (sub[1]) . Ketiga bahasa yang dianalisis di sini semuanya memiliki sufiks.

Contoh:

Bahasa Arab: b-sy-r ‘manuasia’ + -i à basyari ‘manusiawi’

Bahasa Inggris: amaze ‘kagum’ + -ment à amazement ‘kekaguman’

Bahasa Indonesia: beli + -kan à belikan

3. Infiks

Infiks atau sisipan adalah afiks yang diselipkan di tengah kata dasar (Alwi dll, 1998:32). Dalam bahasa Latinnya adalah infixus yang berarti melekat (fixus, figere) di dalam (in). Bahasa Arab tidak memiliki infiks. Bahasa Indonesia memiliki beberapa infiks, salah satunya adalah infiks –em- dalam kata gemetar (dari kata getar). Dalam bahasa Inggris, beberapa ahli bahasa menyebutkan adanya infiks dalam situasi tertentu. Yule (1994) menyebutkan infiks bloody untuk ungkapan emosi, contohnya Hallebloodyluyah! (dari kata Halleluyah). Katamba (1994: 44-45) menyebutkan bahwa infiks hanya ada dalam bahasa Inggris kontemporer yang mungkin tidak digunakan dalam kondisi yang sopan, contoh: in-fuckin-stantiate. Menurut pendapat penulis, satu kata (yang mungkin memiliki lebih dari satu morfem[2]) tidak seharusnya dimasukkan dalam kategori afiks, karena afiks adalah morfem terikat. Oleh sebab itu, menurut penulis, bahasa Inggris tidak memiliki infiks.

4. Konfiks

Konfiks disebut juga ambifiks atau sirkumfix. Secara etimologis dari bahasa Latin, ketiga istilah ini memiliki kesamaan arti. Kon- berasal dari kata confero yang berarti secara bersamaan (bring together), ambi- berasal dari kata ambo yang berarti kedua-duanya (both), dan sirkum- berasal dari kata circumdo yang berarti ditaruh disekeliling (put around) (Gummere dan Horn, 1955). Menurut Alwi dll (1198:32) konfiks adalah gabungan prefiks dan sufiks yang membentuk suatu kesatuan dan secara serentak diimbuhkan. Bahasa Arab dan bahasa Inggris memiliki kata yang dibentuk dengan prefiks dan sufiks.

Contoh:

Bahasa Arab: dh-r-b ‘memukul’+ ma- dan –un à madharabun ‘tempat memukul’

Bahasa Inggris: accept ‘menerima’ + un- dan -able à unacceptable ‘tidak berterima’

Akan tetapi, contoh tersebut hanya merupakan kombinasi afiks, bukan konfiks karena tidak secara serentak diimbuhkan. Dalam bahasa Arab, ada kata madharab dan dalam bahasa Inggris ada kata acceptable. Konfiks dapat ditemukan dalam bahasa Indonesia, contohnya kata kelaparan (dari kata lapar). Konfiks ke-…-an diimbuhkan secara serentak (tidak ada kata kelapar atau laparan). Kridalaksana dll (1985:20) menyebutkan ada empat konfiks dalam bahasa Indonesia, yaitu: ke-…-an, peN-…-an, per-…-an, dan ber-…-an.

5. Interfiks

Bauer(1988: 23-24) menyebut interfiks sebagai afiks yang muncul di antara dua elemen yang membentuk kata majemuk. Kata interfiks berasal dari bahasa Latin inter yang berarti berada di antara, dan fixus yang berarti melekat. Dengan demikian, dapat dibedakan dengan infiks yang berarti melekat di dalam. Contoh interfiks dapat dilihat dalam bahasa Arab. Interfiks -ul- muncul di antara kata birr dan walad, sehingga menjadi birr-ul-walad ‘bakti anak’. Penulis tidak menemukan interfiks dalam bahasa Indonesia. Untuk bahasa Inggris, penulis berpendapat bahwa bahasa Inggris dapat dianggap memiliki interfiks karena pengaruh bahasa Latin. Contohnya interfiks -o- dalam kata morphology. Morph dan logy memiliki lema tersendiri dalam kamus Webster’s New World. Gabungan kedua kata ini memerlukan interfiks -o- sehingga gabungannya bukan morphlogy melainkan morphology[3]. Istilah morfologi dalam bahasa Indonesia tidak dapat dianggap memiliki interfiks -o- karena hanya kata morf yang ada dalam lema KBBI, tidak ada lema logi.

6. Simulfiks

Definisi simulfiks dapat dilihat dari asal katanya dalam bahasa Latin simulatus ‘bersamaan, membentuk’ dan fixus ‘melekat’. Menurut Kridalaksana dll (1985: 20), simulfiks adalah afiks yang dimanifestasikan dengan ciri-ciri segmental yang dileburkan pada bentuk dasar. Dalam bahasa Indonesia, simulfiks dimanifestasikan dengan nasalisasi dari fonem pertama suatu bentuk dasar. Simulfiks masih dianggap hanya terdapat dalam bahasa Indonesia tidak baku, contoh: kopi à ngopi. Bahasa Arab dan bahasa Inggris tidak memiliki simulfiks.

7. Superfiks

Superfiks atau suprafiks adalah afiks yang dimanifestasikan dengan ciri-ciri suprasegmental atau afiks yang berhubungan dengan morfem suprasegmental (Kridalaksana dll, 1985: 21). Bauer (1988:29) menyamakan istilah superfiks dengan simulfiks. Dari asal kata bahasa Latin, supra berarti di atas (above) atau di luar (beyond), sedangkan simulatus berarti bersamaan. Dari contoh suprafiks dalam bahasa Inggris, ‘discount (n) à dis’count (v), dapat kita lihat bahwa suprafiks berada pada tataran suprasegmental sehingga istilah suprafiks lebih tepat dari pada simulfiks. Bahasa Arab dan bahasa Indonesia tidak memiliki suprafiks.

8. Transfiks

Transfiks adalah afiks yang muncul dikeseluruhan dasar (throughout the base). Dalam bahasa Latin trans berarti disepanjang (across) atau di atas (over). Bahasa Indonesia dan bahasa Inggris tidak memiliki transfiks. Afiks yang termasuk transfiks dapat ditemukan dalam bahasa Arab. Contohnya transfiks a-a-a:

f-r-h ‘senang’ + a-a-a à farraha ‘menyenangkan’

m-d-d ‘memanjangkan’ + a-a-a à maddada ‘memanjang-manjangkan’

k-f-r ‘mengkafiri’ + a-a-a à kaffara ‘menisbatkan kekafiran’

IV. Kesimpulan

Dari pembahasan jenis afiks di atas, penulis menyimpulkan bahwa dalam bahasa Inggris, ada empat afiks, yaitu: prefiks, sufiks, interfiks, dan superfiks; dalam bahasa Indonesia ada lima afiks, yaitu: prefiks, sufiks, infiks, konfiks, dan simulfiks; dan dalam bahasa Arab ada empat afiks, yaitu: prefiks, sufiks, interfiks dan transfiks.

PUSTAKA ACUAN

Agnes, Michael (Ed). 2001 (1999). Webster’s New World College Dictionary (Edisi ke-4). Cleveland: IDG Books Worldwide, Inc.

Ali, Attabik dan Ahmad Zuhdi Muhdar. 1996. Kamus Al-‘Ashri. Yogyakarta: Yayasan Ali Maksum.

Alwi, Hasan dll. 1998. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (Edisi ke-3). Jakarta: Balai Pustaka.

Alwi, Hasan (Ed). 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi ke-3). Jakarta: Balai Pustaka.

Bauer, Laurie. 1988. Introducing Linguistic Morphology. Edinburgh: Edinburgh University Press.

Fromkin, Victoria dan Robert Rodman. 1998. An Introduction to Language (Edisi ke-6). Orlando: Harcourt Brace College Publishers.

Gummere, John Flagg dan Annabel Horn. 1955. Using Latin. Chicago: Scott, Foresman and Company.

Katamba, Francis. 1994 (1993). Modern Linguistics: Morphology. London: The Macmillan Press Ltd.

Kridalaksana, Harimurti dll. 1985. Tata Bahasa Deskriptif Bahasa Indonesia: Sintaksis. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Matthews, Peter. 1997. The Concise Oxford Dictionary of Linguistics. Oxford: Oxford University Press.

Yule, George. 1994. The Study of Language. Cambridge University Press.


[1] Dalam bahasa Latin, sub- menjadi suc- sebelum c; suf- sebelum f; sug- sebelum g; sum- sebelum m; sup- sebelum p; sur- sebelum r; dan sering juga, sus- sebelum c, p, atau t. Dalam konteks di atas, sub menjadi suf karena pengaruh bunyi f.

[2] Kata bloody terdiri atas dua morfem: blood dan –y. Kata funkin’ juga memiliki dua morfem: fuck dan -ing.

[3] Bedakan dengan kata archeology yang dibentuk dari kata archeo dan logy, sehingga tidak ada interfiks -o-.

sekilata tentang SKB

Akhirnya SKB mengenai Ahmadiyah yang menjadi kontroversi itu keluar juga. Dengan seluruh ambiguitas yang ada dalam teks surat itu, dokumen itu jelas-jelas merupakan pelanggaran yang telanjang atas konstitusi negara kita yang menjamin kebebasan keyakinan dan beragama.

Pihak pemerintah mengatakan bahwa SKB ini bukanlah tindakan pembubaran Ahmadiyah sebagai organisasi. Pernyataan ini hanya membuat masyarakat, terutama warga Ahmadiyah, dalam situasi ambigu yang membingungkan.

Secara formal, memang SKB ini tidak menyatakan pembubaran Ahmadiyah, tetapi ada klausul di sana yang sangat ambigu dan sekaligus berbahaya. Dalam item nomor dua, surat itu menyatakan bahwa sejak keluarnya dokumen itu seluruh penganut dan pengurus Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) diperingatkan untuk menghentikan seluruh kegiatan yang tidak sesuai dengan penafsiran Agama Islam pada umumnya.

Redaksi SKB ini sangat buruk, ambivalen, dan bisa ditafsirkan macam-macam, sehingga membuka kemungkinan untuk ditarik secara semena-mena untuk memberangus kelompok-kelompok yang dianggap “sesat” menurut penafsiran agama Islam “pada umumnya”.

Apa yang dimaksudkan dengan “penafsiran Islam pada umumnya”? Ini istilah yang sangat aneh. Apakah yang dimaksud adalah penafsiran ala MUI? Apakah penafsiran MUI mewakili penafsiran seluruh umat atau umumnya umat Islam?

Ataukah yang dimaksud adalah penafsiran NU dan Muhammadiyah?

Jika penganur JAI dilarang untuk menyelenggarakan kegiatan yang tak sesuai dengan penafsiran Islam pada umumnya itu, apakah mereka tak boleh lagi menyelenggarakan ibadah sehari-hari di masjid mereka? Apakah mereka tak boleh lagi mengadakan salat Jumat? Apakah mereka tak boleh lagi menyelenggarakan pendidikan di sekolah mereka?

Karena ambiguitas SKB ini, maka dokumen ini bisa dipakai secara serampangan untuk melarang kegiatan ibadah anggota Ahmadiyah.

Bagaimana mungkin di era reformasi ini sebuah kelompok didiskriminasi sedemikian kronisnya, persis seperti masyarakat Tionghoa dulu pada zaman Orde Baru. Diskriminasi kali ini lebih buruk lagi karena diberikan justifikasi kegamaan.

SKB ini juga mengandung pasal yang sangat berbahaya karena melarang masyarakat untuk menafsirkan agama secara menyimpang. Sekali lagi, defenisi menyimpang di sini bisa disalah-gunakan untuk memukuk kalangan yang selama ini banyak mengkritik penafsiran Islam fundamentalis. SKB ini telah meresmikan argumen kaum fundamentalis selama ini bahwa penafsiran Islam yang menyimpang dari pandangan kaum ortodoks adalah sama dengan penghinaan pada agama.

Dengan kata lain, negarakita telah menyediakan alasan legal kepada kaum fundamentalis dan radikal untuk melakukan “jihad” melawan kelompok-kelompok yang mereka anggap sesat hanya karena mengajukan tafsiran atas Islam yang berbeda dengan tafsiran mereka.

Saya sungguh tak percaya bahwa hal ini terjadi di Indonesia, negeri yang selama ini dikampanyekan ke luar negeri sebagai negeri Muslim moderat.

Di mata saya, Indonesia telah jatuh ke tangan kaum fundamentalis, dan karena itu tak berhak lagi menyebut dirinya atau menjual citra ke dunia luar sebagai negeri Muslim moderat.

Saya melihat kehidupan kebangsaan kita di masa depan kian gelap, kian jauh dari harapan para pendiri negeri ini.

Saya khawatir Indonesia akan menjadi seperti negeri Pakistan yang kacau balau saat ini. Respon umat Islam dan pemerintah kita atas kasus Ahmadiyah persis seperti yang terjadi di Pakistan dahulu.

Dengan mobilisasi besar-besaran oleh kalangan fundamentalis, antara lain oleh Jamaat-i Islami, organisasi yang didirikan oleh Abul A’la Maududi, sang ideolog Islam fundamentalis itu, akhirnya pemerintah Pakistan akhirnya menyatakan Ahmadiyah sebagai sekte non-Islam. Masalah Ahmadiyah tak selesai dengan dikeluarkannya sekte itu dari Islam.

Hingga sekarang, warga Ahmadiyah masih mengalami persekusi dan masalah kebebasan beragama yang sangat besar di Pakistan. Kasus Pakistan adalah contoh yang sangat baik di mana setelah dikeluarkan dari Islam pun, Ahmadiyah masih terus “dikuya-kuya” (bahasa Jawa, artinya: ditindas secara semena-mena) . Kebencian kaum fundamentalis tak pernah mengenal batas.

SKB ini jelas tak memuaskan bagi kalangan fundamentalis di Indonesia. Mereka kemungkinan akan meminta pemerintah lebih jauh lagi untuk membubarkan Ahmadiyah. Mereka akan memakai pasal-pasal yang ambigu dalam SKB ini untuk mencapai tujuan mereka itu, yakni mengeluarkan Ahmadiyah dari Islam.

Jika mereka pada akhirnya berhasil mengeluarkan Ahmadiyah dari Islam pun, seperti terjadi di Pakistan, masalahnya juga tak akan selesai. Mereka akan terus memburu sekte yang mereka anggap sesat itu.

Yang dibutuhkan umat Islam saat ini adalah mengembangkan sikap-sikap yang toleran, bukan saling menyesatkan seperti sekarang ini. Apalagi meminta negara untuk campur tangan dalam menghakimi keyakinan suatu kelompol.

Bahasa Quran Bagi Muslim

Bahasa Quran Bagi Muslim
وماعلمنه الشعروماينبغي له ان هوالاذكروقران مبين
Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan tidaklah pantas baginya, Quran tidak lain adalah pelajaran dan bacaan yang gamblang. (Yaasin:69)

Bagi muslim, Quran adalah petunjuk hidup. Seluruh waktu manusia adalah hidupnya. Sehingga, Quran menjadi pedoman abadi yang tidak bisa ditinggalkan. Jika Anda banyak melihat kekacauan, kesengsaraan, dan kehancuran di bumi ini, maka Anda tentu juga akan melihat penyebab dari semua itu. Perbuatan manusia. Penyebab semua kekacauan hidup adalah perbuatan tidak baik manusia. Tidak setiap manusia bertindak buruk. Masih ada manusia yang berbuat baik. Tapi satu perbuatan buruk manusia adalah buruk bagi seluruh manusia. Begitu juga sebaliknya, satu perbuatan baik adalah berakibat baik bagi seluruh manusia.
Tidak seorang pun pernah mengatakan Quran adalah buruk. Setiap Muslim mengakui Quran sebagai petunjuk hidupnya. Tapi lihatlah negeri ini. Negeri berpenduduk mayoritas muslim ini menjadi negeri yang terpuruk dalam kriminalitas, korupsi, kebodohan dan bencana. Di sela waktu Anda, mari kita lihat bersama kesalahan kita dalam hidup. Sudahkah muslim Indonesia menjadikan Quran sebagai petunjuk hidupnya. Sebelum itu, sudahkan muslim Indonesia memahami Quran dengan benar? Untuk itu, bahasa Quran menjadi alat wajib bagi muslim dalam memahami dan melaksanakan Quran.

Dunia mengenal beberapa agama yang berkembang menjadi besar di jaman dahulu hingga sekarang. Dua di antaranya adalah Nasrani dan Islam. Keduanya muncul dan berkembang pertama kali di Asia Barat, yaitu pada bangsa Yahudi dan Arab. Karenanya, bahasa rumpun wilayah ini merupakan bahasa penulisan kedua kitab suci ini. Bahasa awal kedua kitab suci ini adalah bahasa wahyu. Injil pertama kali diturunkan dalam bahasa wahyu. Baru kemudian, Injil (perjanjian lama dan perjanjian baru) dituliskan ke dalam satu kitab, Bible. Dan Bible akhirnya secara keseluruhan diterjemahkan ke dalam Hebrew dan bahasa Latin serta bahasa-bahasa lain di dunia.

Quran, sampai saat ini masih ditulis dalam bahasa aslinya, bahasa wahyu. Walaupun terdapat kemiripan, bahasa ini berbeda dengan bahasa Arab. Bahasa Arab sendiri, saat ini berbeda dengan bahasa Arab kuno di masa Muhammad. Dan Muhammad saw adalah seorang suku bangsa Quraish yang berdarah Babylonia. Sama dengan garis keturunan Ibrahim as. Bangsa Quraish dikenal sebagai bangsa yang bersastra tinggi. Quraish tercatat sebagai satu-satunya suku bangsa yang masih memegang teguh bahasa wahyu.

Bahasa wahyu, bahasa yang ada di dalam Quran menjadi harapan bagi umat Islam dan Nasrani untuk menjaga otentitas kedua kitab suci ini.Apalagi kitab Bible, tidak satu orang pun kini yang native berbahasa Hebrew kuno. Bahasa Quran adalah satu-satunya harapan untuk memaknai Bible yang dulunya berasal dari Injil. Bahasa wahyu, Hebrew dan bahasa Arab adalah bahasa satu rumpun, Semitic languages, dengan dialek yang berbeda. Tidak hidupnya bahasa Hebrew saat ini, memunculkan masalah mendalam bagi umat Kristen dalam mengkaji Bible. Dan hermeneutika lahir sebagai akibat kesulitan bahasa ini.

Ketidakpahaman umat Islam pada bahasa Quran, memunculkan resiko terseretnya umat Islam dalam daya tarik hermeneutika. Hermeneutika bukanlah alat bantu bagi muslim untuk memahami Quran, yang jelas-jelas bermakna gamblang.
وماعلمنه الشعروماينبغي له ان هوالاذكروقران مبين
Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan tidaklah pantas baginya, Quran tidak lain adalah pelajaran dan bacaan yang gamblang. (Yaasin:69)

Dunia mengakui bahwa Quran yang ada saat ini adalah Quran yang sama dengan Quran yang dipegang Muhammad saw. Jika muslim menguasai bahasa Quran, tidak akan terjadi pemaknaan dan penafsiran yang sangat beragam dan saling jauh berbeda. Tidak seharusnya ada textual criticism dalam membaca Quran. Tidak mungkin tidak. Penguasaan bahasa Quran menjadi mutlak diperlukan muslim.

Klasifikasi Kata Menurut Ilmu Nahwu dan Ilmu Sharaf

Dalam tata bahasa Arab, sebagaimana juga dalam tata bahasa yang lain, kata sebagai satuan terkecil bahasa bisa diklasifikasikan menjadi berbagai macam kelompok. Ini tentu saja kemudian memudahkan kita dalam mempelajari tata bahasa Arab. Kata, dalam bahasa Arab, pertama-tama dibagi menjadi: isim, fi’il dan huruf. Selanjutnya, kata ada yang mabni dan ada yang mu’rab, ada yang mudzakkar dan ada yang muannats, dan sebagainya. Berbagai jenis kelompok kata ini seluruhnya bisa dilihat dalam uraian berikut ini.

I. KLASIFIKASI ISIM MENURUT ILMU NAHWU
1. ISIM MU’RAB

Isim Marfu’ : 1) Mubtada’, 2) Khabar, 3) Isim Kaana, 4) Khabar Inna, 5) Fa’il, 6) Na-ibul Fa’il, 7) Yang mengikuti isim marfu’ (Na’at, Taukid, Badal, Athaf)
Isim Manshub : 1) Khabar kaana, 2)Isim Inna, 3) Maf’ul Bihi, 4) Maf’ul Muthlaq, 5) Maf’ul Liajlihi, 6) Maf’ul Ma’ahu, 7) Maf’ul Fihi (Zharaf), 8) Haal, 9) Mustatsna, 10) Munada, 11) Tamyiz, 12) Yang mengikuti isim manshub (Na’at, Taukid, Badal, Athaf)
Isim Majrur : 1) Yang majrur karena huruf jar, 2) Yang Majrur karena idhafah, 3) Yang mengikuti isim majrur (Na’at, Taukid, Badal, Athaf)
2. ISIM MABNI

Dhamir (Dhamir Munfashil, Dhamir Muttashil, Dhamir Mustatir)
Isim Isyarah
Isim Maushul
Isim Syarth
Isim Istifham
Susunan bilangan dari 11 sampai 19 (kecuali 12)
Sebagian zharaf yang mabni, dan yang tersusun dari zharaf
Isim fi’il
II. KLASIFIKASI FI’IL MENURUT ILMU NAHWU

1. FI’IL MABNI
Fi’il madhi
Fi’il amr
Fi’il mudhari’ yang disambung dengan nun niswah atau nun taukid
2. FI’IL MU’RAB : fi’il mudhari’
Tanda-tanda rafa’-nya fi’il mudhari’ : dhommah – tetapnya nun
Tanda-tanda nashab-nya fi’il mudhari’ : fathah – hilangnya nun
Tanda-tanda jazm-nya fi’il mudhari’ : sukun – hilangnya nun – hilangnya huruf ‘illat
III. KLASIFIKASI HURUF MENURUT ILMU NAHWU

1. Huruf-huruf yang memasuki isim

Huruf-huruf jar
Inna dan saudara-saudaranya
Huruf-huruf nida’ (panggilan)
Huruf pengecualian illaa – wawu ma’iyyah – laam ibtida’
2. Huruf-huruf yang memasuki fi’il

Huruf-huruf nashab
Huruf-huruf jazm
Maa dan laa – Qad – Siin dan Saufa
3. Huruf-huruf yang memasuki isim maupun fi’il

Huruf-huruf athaf
Dua huruf istifham : hamzah dan hal
Wawu haal dan laam qasam

IV. KLASIFIKASI ISIM MENURUT ILMU SHARAF

Isim menurut bangunannya :

Isim ghairu shahih akhir (Maqshur, Manqush, Mamdud)
Isim shahih akhir
Isim menurut kedefinitifannya

Isim nakirah
Isim ma’rifah : Dhamir, ‘Alam (kunyah, laqab, isim), Isim isyarah, Isim maushul, Yang ma’rifah karena alif laam, Yang di-idhafah-kan terhadap ma’rifah, Munada yang tertentu maksudnya
Isim menurut jendernya

Isim mudzakkar
Isim muannats
Isim menurut bilangannya

Isim mufrad
Isim mutsanna
Isim jamak : 1) Jamak mudzakkar salim, 2) Jamak muannats salim, 3) Jamak taksir (Jamak qillah, Jamak katsrah)
Isim menurut proses tersusunnya

1. Isim jamid :

Isim dzat (konkret)
Isim maknawi (abstrak) atau mashdar
Mashdar dari fi’il tsulatsi, ruba’i, khumasi, dan sudasi
Mashdar miimi – mashdar shina’i – isim marrah dan isim hai’ah
2. Isim musytaqq :

Isim fa’il
Shighat mubalaghah – amal dari shighat mubalaghah
Isim maf’ul
Shifat musyabbahah (yang menyerupai) isim fa’il
Isim tafdhil
Isim zaman dan makan
Isim alat
Isim menurut pola pen-tashghir-annya

Pen-tashghir-an isim tsulatsi, ruba’i, dan khumasi
Pen-tasghir-an isim yang huruf keduanya alif zaidah atau huruf ketiganya huruf ‘illat
Isim menurut pola batan terhadapnya

Penisbatan terhadap maqshur, manqush, dan mamdud
Penisbatan terhadap isim yang diakhiri dengan yaa’ bertasydid dan terhadap tsulatsi yang akhirnya dibuang
Penisbatan terhadap jamak dan Isim-isim yang manshub dengan tanpa mengikuti kaidah

V. KLASIFIKASI FI’IL MENURUT ILMU SHARAF

Fi’il menurut bangunannya

Fi’il shahih : mahmuz, mudha’af tsulatsi, dan salim
Fi’il mu’tal : mitsaal, ajwaf, dan naaqish
Fi’il menurut proses tersusunnya

Fi’il mujarrad : fi’il mujarrad tsulatsi, fi’il mujarrad ruba’i
Fi’il mazid : fi’il mazid tsulatsi, fi’il mazid ruba’i
Fi’il menurut waktu terjadinya

Fi’il madhi
Fi’il mudhari’
Fi’il amr
Fi’il menurut obyeknya

Fi’il lazim
Fi’il muta’addi
Fi’il menurut disebutkan atau tidak pelakunya

Fi’il mabni ma’lum
Fi’il mabni majhul
Fi’il menurut pen-tashrif-annya

Fi’il jamid
Fi’il mutasharrif : fi’il yang mutasharrif sempurna dan fi’il yang mutasharrif tidak sempurna

Mengenal Sastra Arab

Istilah adab saat ini banyak digunakan dengan makna sastra, seperti istilah كلية الأدب ( Fakultas Sastra ), تاريخ الأدب العربي (Sejarah Kesusastraan Arab), النقد الأدبي ( Kritik Sastra ), dan الأدب المقارن (Sastra Perbandingan). Adab merupakan suatu bentuk ekspresi kehidupan melalui sarana bahasa. Karena itu, mempelajari adab juga erat hubungannya dengan mempelajari kebudayaan dan lingkungan yang melingkupinya. Adab juga bisa dikatakan sebagai sebuah bentuk seni, sebagaimana seni musik atau seni rupa, hanya saja ia menggunakan bahasa sebagai sarananya.

Sejarah kesusastraan Arab terdiri dari beberapa periode, yaitu zaman jahiliyyah (pra-Islam), zaman permulaan Islam, zaman Bani Umayyah, zaman Bani Abbasiyah (berakhir bersamaan dengan keruntuhan Baghdad akibat serangan Mongol), zaman pertengahan / zaman kemunduran, dan zaman modern (sejak abad ke-13 H).

Apa saja yang ada dalam adab?

Secara garis besar, karya adab dibedakan atas dua genre ( النوع ), yaitu puisi (الشعر) dan prosa ( النثر ). Secara kategoris, puisi bisa dibedakan atas puisi perasaan (الشعر الغنائي أوالوجداني ), puisi cerita (الشعر القصصي أو الملحمي), puisi perumpamaan (الشعر التمثيلي ), dan puisi pengajaran ( الشعر التعليمي ). Prosa bisa dibedakan atas prosa tertulis dan prosa tak tertulis.

Prosa tertulis meliputi prosa naratif (القصة) dan prosa non naratif (المقال). Prosa naratif meliputi biografi (الرواية), kisah (القصة) , cerita pendek (الأقصوصة = القصة القصيرة), dan novel. Adapun prosa non naratif bisa dibedakan atas prosa subyektif (argumentasi/persuasi) (المقال الذاتي) dan prosa obyektif (deskripsi/eksposisi) (المقال الموضوعي). Prosa tak tertulis meliputi pidato (الخطابة), ceramah (baik ceramah audiovisual (المحاضرة) maupun ceramah auditorial (الحديث الاذاعي), dan drama (المسرحية). Drama sendiri dibedakan atas drama komedi (الملهاة) dan drama nonkomedi (المأساة). Diantara berbagai genre adab diatas, novel dan drama merupakan genre yang tidak asli Arab, akan tetapi datang dari Eropa.

Perkembangan adab dari masa ke masa

Pada zaman jahiliyah, genre adab yang paling n ialah puisi. Saat itu puisi yang paling populer ialah المعلقات (Puisi-puisi Yang Tergantung). Disebut demikian karena puisi-puisi tersebut digantungkan di dinding Ka’bah. Dinding Ka’bah kala itu kurang lebih juga berfungsi sebagai “majalah dinding”. Penyair yang paling terkenal pada masa jahiliyyah ialah Imru’ul Qais. Disamping itu tercatat pula nama-nama seperti Al-A’syaa, Al-Khansa, dan Nabighah Adz-Dzibyani.

Berdasarkan temanya, puisi zaman jahiliyah dibedakan atas الفخر (membangga-banggakan diri atau suku), الحماسة (kepahlawanan), المدح (puji-pujian), الرثاء (rasa putus asa, penyesalan, dan kesedihan),الهجاء (kebencian dan olok-olok), الوصف (tentang keadaan alam), الغزل (tentang wanita), الاعتذار (permintaan maaf).

Setelah Islam datang, tidak berarti bahwa puisi-puisi menjadi dilarang. Islam datang untuk memelihara yang sudah baik, memperbaiki yang kurang baik, menghilangkan yang buruk-buruk saja, dan melengkapi yang masih lowong. Tentang puisi, Nabi bersabda,”إن من الشعر حكمة (Sesungguhnya diantara puisi itu terdapat hikmah)”. Ketika Hasan ibn Tsabit (شاعر الإسلام ) mengajak untuk mencemooh musuh – musuh Islam, Nabi berkata, ”هجاهم و جبريل معك (Cemoohlah mereka, Jibril bersamamu)”. Nabi pernah memuji puisi Umayyah ibn Abu Shalti, seorang penyair jahiliyah yang menjauhi khamr dan berhala. Nabi juga pernah memuji puisi Al-Khansa, seorang wanita penyair zaman jahiliyyah. Bahkan, Nabi pernah menghadiahkan burdah (gamis)-nya kepada Ka’ab ibn Zuhair saat Ka’ab membacakan qasidahnya yang berjudul بنات سعاد . Karena itu, muncullah apa yang disebut dengan Qasidah Burdah. Di masa permulaan Islam ini, berkembang pula genre pidato dan surat korespondensi. Surat-surat pada mulanya dibuat oleh Nabi untuk menyeru raja-raja di sekitar Arab agar masuk Islam.

Pada masa Bani Umayyah, muncul tema-tema politik dan polemiknya sebagai dampak dari ramainya pergelutan politik dan aliran keagamaan. Namun, pada masa ini Islam juga mencapai prestasi pembebasan (القتوح) yang luar biasa, sehingga banyak memunculkan شعر الفتوح و الدعوة الإسلامية (Puisi Pembebasan dan Dakwah Islam). Para penyair yang terkenal pada masa ini antara lain Dzur Rimah, Farazdaq, Jarir, Akhtal, dan Qais ibn Al-Mulawwih (terkenal dengan sebutan Majnun Laila).

Pada zaman Bani Abbasiyah, surat menyurat menjadi semakin penting dalam rangka penyelenggaraan sistem pemerintahan yang semakin kompleks. Dalam genre prosa, muncul prosa pembaruan (النثر التجديدي) yang ditokohi oleh Abdullah ibn Muqaffa dan juga prosa lirik yang ditokohi oleh antara lain Al-Jahizh. Salah satu prosa terkenal dari masa ini ialah Kisah Seribu Satu Malam (ألف ليلة و ليلة). Dalam dunia puisi juga muncul puisi pembaruan yang ditokohi oleh antara lain Abu Nuwas dan Abul Atahiyah.

Masa Bani Abbasiyah sering disebut-sebut sebagai Masa Keemasan Sastra Arab. Karena Islam juga eksis di Andalusia (Spanyol), maka tidak ayal lagi kesusastraan Arab juga berkembang disana. Pada zaman Harun Al-Rasyid, berdiri Biro Penerjemahan Darul Hikmah. Namun hal lain yang perlu dicatat ialah bahwa pada masa ini banyak terjadi kekeliruan berbahasa di tengah masyarakat akibat pergumulan yang kuat bangsa Arab dengan bangsa ajam (non Arab).

Setelah melewati Masa Keemasan, kesusastraan Arab kemudian memasuki masa kemunduran, yang sering juga disebut sebagai zaman pertengahan, zaman Mamluk, atau zaman Turki. Secara umum kemunduran ini disebabkan oleh mulai timbulnya instabilitas politik. Bahasa Arab saat itu bahkan bisa dikatakan telah hancur dihadapan bahasa resmi, Turki. Meski namanya zaman kemunduran, namun tidak sedikit para sastrawan ternama muncul pada masa ini.

Menjelang zaman modern, sastra Arab mulai dihadapkan dengan sastra Barat. Dalam hal ini, terdapat dua aliran utama. Pertama, aliran konservatif (المحافظون), yakni mereka yang masih memegang kaidah puisi Arab secara kuat. Mereka itu antara lain Mahmud Al-Barudi dan Ahmad Syauqi. Yang terakhir disebut ini sering dikenal dengan sebutan أمير الشعراء (Pangeran Para Penyair) dan Poet of Court (Penyair Istana). Disamping itu terdapat pula Hafizh Ibrahim yang dikenal dengan sebutan Poet of People (Penyair Rakyat). Aliran yang kedua ialah aliran modernis (المجددون), yakni mereka yang ingin lepas dari kaidah dan a tradisional serta sangat terpengaruh oleh sastra Barat.

Memasuki zaman modern, perseteruan antara sastra Arab dan sastra Barat semakin menjadi-jadi. Dalam dunia puisi, terdapat dua aliran utama, yakni konservatif dan modernis. Di kubu konservatif terdapat Mushthafa Shadiq Al- Rafi’i, Mahmud Abbas Al-Aqqad dan kawan-kawan. Sementara di kubu modernis terdapat Ahmad Amin, Muhammad Husain Haikal, Taha Husain, dan kawan-kawan. Dalam dunia puisi juga terdapat aliran konservatif dan modernis. Aliran modernis memperkenalkan puisi bebas (puisi tanpa sajak). Beberapa sastrawan aliran Romantik pada tahun 1930-an telah mendirikan kelompok penyair bernama Kelompok Apollo. Satu perkembangan unik puisi di masa ini ialah munculnya شعر المقاومة (Puisi Perlawanan) yaitu puisi yang menggelorakan perlawanan Islam dan Arab melawan Zionis Israel.

Kesusastraan Arab tidak hanya telah diramaikan oleh umat Islam. Beberapa sastrawan nonmuslim, meskipun tidak banyak, telah diakui (minimal oleh dunia Barat) sebagai bagian dari komunitas sastra Arab. Diantara mereka terdapat Khalil Jibran (Kahlil Gibran), dengan karya terkenalnya الأجنحة المتكسرة (Sayap-sayap Patah) dan الأرواح المتمردة (Jiwa-jiwa Pemberontak). [Selesai]

Iklan